Postingan

Komunitas Penyaring Berita

Komunitas Penyaring Berita Halo teman-teman.. Apa kabar disana? Sungguh kesempatan yang luar biasa bisa berbagi.  Akhir-akhir ini hujan cukup rutin menyelimuti ibukota. Jika hujan deras setengah atau satu jam saja jalanan sudah tergenang air. Penduduk yang bermukim di bantaran kali sudah takut dan awas, manakala sewaktu-waktu air membanjiri rumah mereka.  Kanal banjir utara dan timur (Jakarta Utara dan Jakarta Timur) memang sudah selesai, jadi kemungkinan banjir minim. Namun, Jakarta Utara dan Selatan kemungkinan banjir masih besar. Di sinilah peran Jokowi sebagi gubernur terpilih dibutuhkan mendesak.  Soal polusi dan macet sudah menjadi makanan sehari-hari. Tetangga rumah tidak saling menyapa, bukan karena sombong atau tidak mau sosialisi, namun karena kesibukan dan pekerjaan. Saya dengan teman satu atap saja jarang bertemu.  Jalur busway yang diserubut oleh pengendara lain yang nakal bukan hal biasa. Kebanyakan penduduk ibukota ini saya kira su...

Mengintip Istilah Darah Biru

Gambar
Oleh: Ardin Silalahi Konon kurun waktu yang tidak diketahui persis, abad pra-modern, di sebuah negeri dataran Eropa, Spanyol berdiam sebuah kerajaan yang masyur dan makmur. Raja dan para kerabatnya hidup di istana mewah dengan segala kelimpahan makanan. Orang-orang yang berdiam di istana tak capek-capek bekerja menggarap tanah atau beternak. Mereka menikmati upeti dari rakyat yang mengusahakan tanah yang berada di bawah kekuasaan raja.  google.com Masyarakat penggarap kian hari tampak dekil dan kusam. Kulitnya berangsur kecoklatan. Sebaliknya, raja dan kerabatnya hidup senang, kulit mereka semakin bersih dan memutih. Acap kali berbaur di keramaian, perbedaan tersebut sangat mencolok dan mudah mengetahuinya. Oleh sebab itu, kulit para pemukim istana tampak tembus pandang dan pembuluh darah pun terlihat membiru. Beberapa puluh tahun kemudian setiap keturunan raja dan kerabatnya disebutlah keturunan darah biru atau kaum bangsawan.  google.com ...

Mengenal Sisingamangaraja XII Si Pluralis dari Tanah Batak

Gambar
Oleh: Ardin Silalahi Bulan Juni 1876 Raja Sisingamangaraja XII mengumpulkan raja-raja di luar tanah Batak dan penatua-penatua daerah untuk mengadakan pertemuan akbar. Pertemuan tersebut mengambil tempat di Pasar Balige, Sumatera Utara dan memutuskan tiga kesepakatan penting yaitu, 1) menyatakan perang terhadap kolonial Belanda; 2) tidak mengganggu penyebaran agama Kristen (Zending); dan 3) menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda.  google.com/foto Raja Sisingamangaraja XII Lalu, apa poin penting pada pertemuan tersebut? Point penting terdapat pada butir ketiga, yang bisa memunculkan dua pertanyaan besar: Bahasa apa yang digunakan Sisingamangaraja XII beserta para panglimanya membujuk kerajaan Aceh untuk bersatu melawan Belanda; dan apakah kerajaan Aceh bersedia membantu?  Sebelum Belanda mulai memancangkan koloninya di Aceh dan tanah Batak, Sisingamangaraja XII sudah menjalin hubungan baik dengan kerajaan Aceh. Dari sumber yang diperol...

Malam Takbiran

Tak bisa tidur aku, kudengar kumpulan suara menderu. Pengeras suara bergemuru, takbiran pagi mendayu. Anak-anak bergantian memanjatkan doa. Mereka memanggil, hilang sejenak mereka bersuara. Aku berkeringat, pagi ini hawanya gerah. Kudengar lagi suara-suara bergeliat. Takbiran pagi gaduh. Para anak suaranya hilang. Suara itu berubah dewasa. Doa-doa itu tiada henti dikumandangkan. Kemenangan, kemenangan telah tiba. Apa arti kemenangan kalau aku tidak perduli kepada yang berkekurangan. Untuk apa menang kalau upahku yang besar di bumi untuk berhura. Kenapa memberikan sesuatu di hadapan banyak orang untuk dikenal dan dikira baik. Sia-sia, sia-sia jika nyaman orang lain meradang kawan. Jakarta, 26 Oktober 2012 dini hari. Ardin Haposan Silalahi

Kakakku, Pahlawanku

Oleh: Ardin Haposan Silalahi* Rumah kami di renovasi saat aku duduk di bangku SMA. Dengan kondisi keluarga yang serba kekurangan tampaknya hal itu harusnya tidak mungkin terjadi. Dulunya dinding rumah terbuat dari ayaman bambu, sekarang sudah berdiri tembok kokoh. Atap rumah yang dulunya berbahan daun rumbiah, kini sudah bermaterial seng. Dulu hampir setiap atap rumah bocor dan mengeluarkan bias cahaya di siang hari. Kalau hujan turun lantai rumah tidak tergenang air lagi. Aku dan ibu tidak lagi menyiapkan ember-ember penampungan air. Tidurku tidak lagi terganggu saat hujan deras mengguyur di malam hari. Itu karena peran kakakku. Dia memberikan seluruh tabungannya untuk merenovasi rumah dan   membuat kami semua nyaman jika berdiam di rumah.  Selain dinding dan atap, kamar mandi dan sumur juga menjadi perhatian kakakku. Saat ini rumah sudah punya bak mandi dan toilet beserta safety tank -nya. Air yang biasanya didapat dari sumur galian secara manual, kini sudah menggunak...

Citizen Jurnalism versus Warga Melaporkan

Gambar
Oleh: Ardin Haposan Silalahi* Sebelum menjabat hingga sah menjabat Gubernur DKI Jakarta, demam Jokowi tumpah ruah. Di mana-mana seluruh ibukota sosok pria sederhana ini menjadi bahan perbincangan. Terbukti, setelah beberapa hari menjabat mantan walikota Solo ini langsung turun ke bawah (turba). Masyarakat senang ketika kelurahannya disambangi. Seperti yang terjadi di kawasan pemukiman warga Marunda, Jakarta. Jokowi menyaksikan langsung salah satu rumah susun di daerah tersebut. Berbagai media meliput, baik media cetak maupun elektronik. Pemberitaan pun gencar dilakukan. Tidak hanya kalangan professional atau yang disebut jurnalist, masyarakat juga turut memberitakan, atau dalam istilah terkini disebut citizen jurnalism . Teringat ketika saya menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh harian Kompas, Sabtu 20 Oktober di gedung Kompas Gramedia, istilah citizen journalism ini menjadi salah perbincangan menarik oleh para pembicara. Gayung bersambut dengan tema seminar yaitu...

Lupa Check-in, Kantong Pun Kering

Gambar
Oleh: Ardin Haposan Silalahi Jakarta, 10 Oktober 2012. Pagi-pagi sekali sekitar pukul 03.00 aku hengkang dari tempat tidurku. Pandangan di luar masih gelap betul. Embun masih berayun di dahan-dahan, di jemuran. Membasahi atap kosaku. Membasahi halaman depan dan jejeran motor yang terpakir serong. Membasahi daun pohon anggur yang meranggas di depan teras rumah ibu kosku. Aku tersadar. Pagi sudah menyambutku. Pagi seakan-akan memaksaku untuk berpacu, beradu dan pagi seoalah meyuruhku untuk merasakan dinginnya air. Aku pun mandi.  Aku harus ke bandara. Lalu, aku berangkat dari kos pukul 04.00 pagi naik ojek ke terminal bus Damri. Jalanan sepi. Lampu merah ditrobos. Kecepatan rata-rata 80 km/jam. Aku merasakan tubuhku menggigil. Aku lalu tiba di terminal Damri, Gambir, Jakarta Pusat kira-kira sepuluh menit setelahnya.   “Berapa pak ongkosnya?” Pak ojek bilang “kasi Rp. 20.000. saja Din.” Bapak ojek ini adalah bapak kosku. Selain sibuk mengurus kosan yang cukup banyak, di...