Citizen Jurnalism versus Warga Melaporkan
Oleh: Ardin Haposan Silalahi*
Sebelum menjabat hingga sah
menjabat Gubernur DKI Jakarta, demam Jokowi tumpah ruah. Di mana-mana seluruh ibukota
sosok pria sederhana ini menjadi bahan perbincangan. Terbukti, setelah beberapa
hari menjabat mantan walikota Solo ini langsung turun ke bawah (turba). Masyarakat
senang ketika kelurahannya disambangi.
Seperti yang terjadi di kawasan
pemukiman warga Marunda, Jakarta. Jokowi menyaksikan langsung salah satu rumah
susun di daerah tersebut. Berbagai media meliput, baik media cetak maupun
elektronik. Pemberitaan pun gencar dilakukan. Tidak hanya kalangan professional
atau yang disebut jurnalist, masyarakat juga turut memberitakan, atau dalam
istilah terkini disebut citizen jurnalism.
Teringat ketika saya menghadiri
seminar yang diselenggarakan oleh harian Kompas, Sabtu 20 Oktober di gedung
Kompas Gramedia, istilah citizen journalism
ini menjadi salah perbincangan menarik oleh para pembicara. Gayung bersambut
dengan tema seminar yaitu “Merumuskan Bahasa dalam Media Online dan Jurnalisme
Warga.” Tiga pembicara luar biasa yakni Masmimar Mangiang (Dosen Komunikasi
UI), Ivan Lanin (Wikipedian), dan redaktur pelaksana kompas.com dan
kompasiana.com Pepih Nugraha mengobok-obok pemahaman kami.
| google.com |
Kang Pepih (untuk sebutan Pepih
Nugraha) menyinggung tentang istilah citizen
jurnalism. Aku setuju. Dia mengatakan bahwa istilah tersebut masih memiliki
padanan bahasa Indonesia yang tepat untuk mewakilkan masyarakat melaporkan
kegiatan Jokowi ketika masuk kampung (daerah pemukiman). Istilah tersebut bisa dipadankan
dengan pewarta warga, berita warga, atau warga melaporkan.” Aku memilih warga melaporkan sebagai padanan yang
pas untuk mengganti citizen journalism
tersebut.
Seperti salah satu stasiun televisi
swasta yang baru-baru ini melaporkan bahwa maskapai penerbangan Sriwijaya Air
tergelincir di Bandar Udara Supadio Pontianak. Salah satu video amatir warga
pun ditampilkan. Di situ ditulis citizen journalism
sebagai tagline-nya. Alangkah menariknya jika istilah
tersebut dibumi-Indonesiakan. Bukan salah, barangkali istilah tersebut sudah
jadi tren untuk menarik penikmat agar tidak mengganti tayangan ke stasiun teve
lain.
Mengutip pernyataan Masmiar Mangiang
dalam seminar bertajuk “Merumuskan Bahasa dalam Media Online dan Jurnalisme
Warga,” beliau mengatakan bahwa media harus perperan memelihara bahasa karena
media memiliki filter, sedang masyarakat tidak. Inilah bedanya antara berita
yang dilaporkan oleh kalangan profesional dengan berita yang dilaporkan
masyarakat dalam jejaring sosial atau blog pribadi.
Warga melaporkan menjadi padanan
yang tepat. Orang luar ingin mengetahui bahasa Indonesia hingga menjadikannya tema
dalam makalah mereka. Tapi masyarakat Indonesia sendiri yang memiliki peran
menjaga dan melindungi martabat bahasa kita.
Terima kasih Kompas atas
penyelenggaraan seminarnya.
*Bergiat di Komunitas Mata-Kata
Komentar
Posting Komentar