Lupa Check-in, Kantong Pun Kering

Oleh: Ardin Haposan Silalahi


Jakarta, 10 Oktober 2012. Pagi-pagi sekali sekitar pukul 03.00 aku hengkang dari tempat tidurku. Pandangan di luar masih gelap betul. Embun masih berayun di dahan-dahan, di jemuran. Membasahi atap kosaku. Membasahi halaman depan dan jejeran motor yang terpakir serong. Membasahi daun pohon anggur yang meranggas di depan teras rumah ibu kosku. Aku tersadar. Pagi sudah menyambutku. Pagi seakan-akan memaksaku untuk berpacu, beradu dan pagi seoalah meyuruhku untuk merasakan dinginnya air. Aku pun mandi. 

Aku harus ke bandara. Lalu, aku berangkat dari kos pukul 04.00 pagi naik ojek ke terminal bus Damri. Jalanan sepi. Lampu merah ditrobos. Kecepatan rata-rata 80 km/jam. Aku merasakan tubuhku menggigil. Aku lalu tiba di terminal Damri, Gambir, Jakarta Pusat kira-kira sepuluh menit setelahnya.  “Berapa pak ongkosnya?” Pak ojek bilang “kasi Rp. 20.000. saja Din.” Bapak ojek ini adalah bapak kosku. Selain sibuk mengurus kosan yang cukup banyak, dia juga sesekali ngojek. 

Seperti halnya di halte-halte busway, di terminal ini juga dijajakan koran Kompas harga miring, Rp. 2.000 saja. Aku pun beli satu. Begitu juga pasangan kekasih yang duduk di seberang kursiku. Yang di depanku juga. Hampir semua penumpang di pagi itu merogoh koceknya untuk mendapatkan Kompas. Di sudut kanan atas tertera stempel: “Khusus bus Damri Rp. 2.000.” Hehehehe

Kaca bus Damri masih tertutup embun. Hingar-bingar ibukota lenyap. Sekitar pukul 04.40 Damri berangkat dan melaju menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Propinsi Banten. Kendaraan sepi melaju. Lampu-lampu jalan berkilauan. Dan saya pun tiba sekitar pukul 05.10 dengan ongkos Rp. 20.000. Bandara sudah ramai dipenuhi penumpang dan para sanak saudara yang mengantar dan menjemput. Di mana-mana petugas bagasi menawarkan jasanya. 

Aku lapar. Tasku dipenuhi dodol garut. Aku lalau menyempatkan sarapan. Kemudian aku duduk-duduk di luar bandara hingga lupa check in. Aku pun check in pukul 06.30. Karena jadwal check in harus 45 menit sebelum keberangkatan, petugas menolakku untuk jadwal penerbangan pukul 07.00. Aku melaporkan kejadian itu ke Bu Ervida dengan langsung menghubunginya via ponsel.  Dia adalah manejer pengembangan bisnis di perusahaan yang mengundangku ikut kegiatan di Medan dua hari (Menghadiri pameran dan psikotest). Sisanya mudik tu huta hasiholan

Beberapa menit kemudian aku dihampiri oleh salah satu petugas maskapai (lembaga disensor) dan menawarkan agar aku pindah jadwal terbang ke pukul 08.00 dengan membayar Rp. 600.000 karena tiket penerbangan yang sudah saya miliki dianggap hangus. Lalu segera aku menghubungi sang pujaan hati agar bersedia memberikanku pinjaman lunak. Tak lama berselang uang pun langsung ditransfer. Lebih dari jumlah uang yang kuminta. Aku pun menawar, aku berhasil dan hanya membayar Rp. 400.000 dari yang tawarkan oleh petugas sebelumnya. Bukan di tempat terbuka, namun petugas mengajakku ke ruang tertutup. “Jangan bilang siapa-siapa ya..,” gumamnya usai transaksi. 

Pesawat yang kutumpangi akhirnya terbang dari Bandara International Soekarno-Hatta sekitar pukul 08.20 dan tiba di Bandara Internasional Polonia Medan sekitar pukul 10.30. Saat pesawat landing dan melaju pelan menuju drop point, pandanganku dari jendela pesawat tertuju ke pembangunan perumahan tidak jauh dari bandara. Ah, rupa-rupanya tak lagi lama (tak lama lagi) bandara ini tidak lagi digunakan sebagai landasan komersial. Barangkali bandara baru di Kuala Namu hampir rampung seratus persen. Kemudian Ibu Ervida menjemputku 20 menit setelahnya dan langsung menuju pameran di Hotel Santika Medan. 

Selama pameran

Kegiatan pertamaku di Medan. Aku sudah dijadwalkan akan bertemu dengan calon investor, Kevin namanya. Mengenai pertemuan dengan Pak Kevin terbilang singkat.  Hanya kurang lebih 3 jam. Pak Kevin bercerita banyak tentang produk bisnis yang akan dijalankan dan rencana kerjasama. Bisa kukatakan itu adalah tahap pengenalan awal. 

Beliau juga mengajakku dan Bu Ervida berkeliling pameran dan memperkenalkan kepada kami produk pesaing/competitor, produk yang sama dengan yang dikelola oleh Pak Kevin sendiri yaitu alat-alat penunjang produksi kelapa sawit. Aku tidak banyak bertanya dengan Pak Kevin saat pertemuan itu. Aku kebanyakan mendengar beliau bercakap-cakap dengan Bu Ervida dan aku terkagum. Mereka berdua sangat ahli di dunia bisnis, di dunia usaha, sedangkan aku nol. Aku kosong. Aku bodoh di antara orang pintar. 

Kuingat Pak Kevin sempat mengatakan bahwa dia tidak bersedia membiarkanku bekerja sendiri atau merintis usaha baru ini tanpa ada seorang yang ahli untuk mengarahkan. Aku sangat setuju dengan rencana bapak tersebut. Lalu, kurang lebih pukul 14.00 kami berpisah. Aku pulang ke rumah teman setelah Bu Ervida menurunkanku di depan stasiun kereta Merdeka Walk. Dari sana aku kemudian naik angkot 103 menuju Jl. Jamin Ginting Pasar 1, tempat kos teman. 

Waktu psikotest dan wawancara

Medan, 11 Oktober 2012. Nah, sebelum berpisah dengan Bu Ervida, dia berpesan agar tgl 11 Oktober 2012 saya mengikuti psikotest di Jl. Gajah Mada No 3 b pukul 08.00. Keesokan harinya aku pun tiba sekitar pukul 07.55. di kantor setelah numpang nginap di kontrakan Dian Purba. Aku menumpang angkot nomor 10 kuning jurusan Pancing. Simpang pos macet meskipun sudah dilakukan pelebaran jalan menuju Asrama Haji Adam Malik. 

Pagi itu aku bertemu dengan Bu Ervida di depan meja resepsionis. Wanita yang duduk di kursi resepsionis itu berbadan tinggi, agak kurus dan mengenakan kacamata. Kemudian Ibu Ervida mengatakan bahwa psikotes dulu baru interview. Lalu aku juga berkenalan dengan Ibu Florence yang kemudian kuketahui adalah gadis yang mewawancaraiku dan dia mengatakan agar wawancara di hari itu juga. 

Cuaca di luar cerah. Cahaya menyelimuti bumi. Bunyi klakson menderu-deru. Pukul 08.30 test pun dimulai diarahkan oleh Ibu .. (Saya lupa namanya). Seperti psikotest yang sudah-sudah, yang ini tiada bedanya. Mencocokkan gambar, menghitung, tes logika, menggambar pohon, rekening koran, menggambar manusia yang sedang beraktifitas, dan melengkapi gambar menjadi gambar yang punya makna. 

Kemudian test pun berakhir pukul 14.00. Setelah test selesai aku diijinkan pulang dan tidak bertemu dengan Ibu Florence. Tak ada informasi kuterima agar aku menunggu untuk wawancara. Sekenanya saja aku pulang ke kos lama dan mengisi perut yang sedari tadi keroncongan. Berjalan dan menunggu angkot di simpang Jl. Gajah Mada (alias Ismud).

Masih 11 Oktober 2012. Sekitar pukul 15.00 aku sedang menyantap makan siang tiba-tiba telpon genggamku bergetar dan ternyata Bu Florence di ujung sana dan menyapaku. Dia memintaku agar kembali ke kantor untuk wawancara dan mengucapkan maaf karena lupa menahanku untuk menunggu setelah psikotest usai. Aku lalu mengatakan ‘Baik bu, paling lama jam 16.00 saya tiba disana.” 

Kumasukkan blouse baju ini yang sedari tadi menantang keluar. Aku gerah. Sekitar pukul 15.58 aku pun tiba dan gadis yang duduk di meja resepsionis itu memintaku untuk menunggu sebentar. 10 menit kemudian wawancara pun dimulai. Kemudian kurang lebih 20 menit berjalan Bu Ervida menghampiri kami dan ikut memberikanku pertanyaan-pertanyaan seputar kesiapanku mengenai rencana merintis usaha baru tersebut. Dan sekitar pukul 17.00 interview pun usai lalu aku kembali ke rumah Dian Purba dan menginap disana dua malam.  

Setelah menginap gratis, siang hari aku pulang kampung. Jalanan ramai. Aku berkeringat. Pematang Bandar kampungku. Aku menumpang bus KUPJ dengan ongkos Rp. 23.000. Ingin sekali aku cepat tiba di kampung. Bus kami melaju cepat sembari aku bercengkrama ria dengan gadis di pulau seberang di ujung telepon. Seusai teleponan aku ngantuk, tapi tak bisa tidur. Kupejamkan mata ini bukan nyenyak. Pikiran ini membawaku melayang menembus angin kencang yang menyelinap masuk dari jendela kaca bus. Angin itu tak tebentengi, begitu juga dengan pikiran ini. Rasanya aku sudah menghirup bau harumnya hamparan padi menghijau di sawah. Seperti I’m home.    

Di kampung

Pematang Bandar, 13 Oktober 2012. Hari Sabtu. Aku bangun kesiangan setelah malam sebelumnya aku tidur larut malam karena asik bercengkrama dengan teman sekampung Rikardo Tampubolon. Tak ada yang berubah pada penglihatanku. Tak lupa aku dan ibu jiarah ke makam bapak. Tak ada yang berubah. Pohon sangge-sangge masih tumbuh lebat di halang ulu. Pohon singkong tumbuh kekar menjulang. Aku merumput. Rumput liar kecil-kecil sedang tumbuh bebas di tinambor ni natua-tua i.
 
Udara sejuk. Kuhirup, serasa emas murni melaju di hidungku dan masuk  ke tumbuhku. Aku jauh dari ibukota. Tak lupa aku makan mie gomak khas kampungku. Enak. Ibu juga memasak masakan kusukaanku: jagal na diarsik. Dibumbui dengan tubis, pohon bambu yang masih sangat muda. Aku kenyang. Nambah. Aku pun kembali ke Medan sekitar pukul 10.00. Kutinggalkan kampungku, begitu juga ibuku. Sedih juga berpisah setelah sebentar saja bertemu.. 

Medan menuju Jakarta

Bus KUPJ yang kutumpangi lambat sekali. 4 jam duduk di bus itu. Rupanya minyak remnya bocor. Pak supir takut melaju kencang. Sesampai di Jl. Sisingamangaraja Medan hujan turun deras. Jalanan pun banjir.  Aku terhalang. Waktu tiada jeda berputar. 

Kisaran pukul 17.40 saya tiba di Bandara Internasional Polonia Medan dengan menumpang taksi dengan ongkos Rp. 20.000 setelah bertemu dengan Citra, Evi dkk di kantor Jl. Gajah Mada. Mereka punya titipan roti brownies untuk temannya Esra dan Pitra di Serpong. Kala itu hujan. Langsung pukul 17.45 aku check in. Aku tidak mau jatuh ke lobang yang sama kedua kali. Pesawat pun meninggalkan Bandara Internasional Polonia Medan pukul 18.30 dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sekitar pukul 20.50. Kemudian aku menumpang bus Damri menuju kos sekitar pukul 21.10. 

*Bergiat di Komunitas Mata-Kata

Sumber foto: Google.co.id

Komentar