Mengenal Sisingamangaraja XII Si Pluralis dari Tanah Batak
Oleh:
Ardin Silalahi
Bulan
Juni 1876 Raja Sisingamangaraja XII mengumpulkan raja-raja di luar tanah Batak
dan penatua-penatua daerah untuk mengadakan pertemuan akbar. Pertemuan tersebut
mengambil tempat di Pasar Balige, Sumatera Utara dan memutuskan tiga
kesepakatan penting yaitu, 1) menyatakan perang terhadap kolonial Belanda; 2) tidak
mengganggu penyebaran agama Kristen (Zending); dan 3) menjalin kerjasama Batak
dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda.
| google.com/foto Raja Sisingamangaraja XII |
Lalu,
apa poin penting pada pertemuan tersebut? Point penting terdapat pada butir
ketiga, yang bisa memunculkan dua pertanyaan besar: Bahasa apa yang digunakan
Sisingamangaraja XII beserta para panglimanya membujuk kerajaan Aceh untuk
bersatu melawan Belanda; dan apakah kerajaan Aceh bersedia membantu?
Sebelum
Belanda mulai memancangkan koloninya di Aceh dan tanah Batak, Sisingamangaraja
XII sudah menjalin hubungan baik dengan kerajaan Aceh. Dari sumber yang
diperoleh, Sisingamangaraja XII kala itu sudan fasih berbahasa dan menulis Arab
sebagai bahasa sehari-hari rakyat Aceh. Didasari hubungan baik dan tujuan yang
sama, yaitu untuk mengusir pejajah Belanda, kerajaan Batak akhirnya mendapat
bantuan dari kerajaan Aceh untuk bersama-sama berperang melawan pemerintah
kolonial Belanda.
Selain
dengan Aceh, Raja Sisingamangaraja XII juga membangun koalisi politik dengan
daerah-daerah tetangga, yakni dengan Asahan, Tanah Karo, Dairi, Pakpak dan Deli
Serdang. Asahan dan Deli Serdang yang dominan etnis Melayu sangat berbeda
dengan Batak, baik dalam bahasa maupun budaya. Begitu juga dengan kerajaan
Karo, Dairi dan Pakpak juga berbeda dengan Batak. Koalisi tersebut berjalan
baik dan telah memecahkan kebekuan pengkotak-kotakan etnisitas yang sarat
dengan permusuhan hingga pembunuhan yang akhir-akhir ini menjadi topik hangat
di layar televisi.
| google.com/makam SM Raja XII |
Sisingamangaraja
XII pun berhasil membangun koalisi di antara perbedaan-perbadaan yang ada.
Segendang dengan yang disebutkan sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr
Phil Ichwan Azhari dengan mencungkil Kompas.com, beliau mengatakan bahwa Raja
Sisingamangaraja XII layak digelari pahlawan pluralisme dan multikulturalisme,
karena dalam setiap perjuangannya tetap menghargai kebudayaan dan menjalin
hubungan yang kuat dengan daerah lain dan dengan etnis yang berbeda.
Mari bercermin
Dewasa
ini isu SARA sangat marak terjadi dan telah menjadi pemantik terjadinya
berbagai peristiwa kekerasan, pembunuhan hingga pembakaran di seantero negeri.
Penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah, kerusuhan di Poso, pelarangan
pembangunan gereja, dan pembakaran rumah-rumah penduduk di Sampang, Madura telah
menggoretkan tinta merah di benak anak-anak bangsa dan di buku-buku sejarah
bangsa, dan telah menjadi bukti kelam sejarah bangsa Indonesia.
Sebenarnya
dengan sejarah masyarakat Indonesia telah dipandu untuk belajar dan berbenah di
masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan mempelajari sejarah, secara
tidak langsung, bangsa harusnya sudah meyakini bahwa NKRI dibentuk bukan oleh
satu etnis atau satu keyakinan saja, namun beragam. Dan oleh sejarah juga
patutlah bangsa Indonesia menghargai perbedaan antar golongan dan menjadikannya
kekayaan budaya bangsa, seperti yang termaktub dalam UUD 1945 pasal 27, 28 dan
29 sebagai cerminan hak hidup, hak berdemokrasi dan hak berkeyakinan. Sebagai
turunannya, keberagaman dalam kerukunan juga pantaslah dijadikan senjata untuk
memperkenalkan produk wisata Indonesia ke dunia.
Untuk
itu, pesan Bung Karno dengan istilah jasmerah (jangan sekali-kali melupakan
sejarah) sangat relevan diterapkan di masa kini. Tentu sejarah yang dimaksud
bukanlah tentang penghianatan, pembunuhan karakter, pembungkaman hak-hak
demokrasi, atau bukan tentang insiden pemunuhan massal yang terjadi tahun
1965-1966 terhadap simpatisan PKI, yang berujung kepada pembunuhan warga tak
berdosa. Namun sejarah tentang pengorbanan menuju kemerdekaan, tentang persamaan hak dan
tentang kerukunan antar etnis dan umat beragama untuk meraih hadiah terbesar,
yaitu Indonesia merdeka.
Nah,
tak lama lagi republik ini akan memperingati Hari Pahlawan tepatnya tgl 10
November mendatang. Lalu apa tugas kita sebagai bangsa yang ditinggalkan dan
bangsa yang telah mengecap pahit-manis kemerdekaan? Barangkali bukan kewajiban,
tapi lebih besar dari itu, yakni tanggungjawab kita sebagai bangsa Indonesia
untuk bercermin dari para pendahulu bangsa, baik Sisingamangaraja XII dan Ir.
Soekarno yang sama-sama telah mewariskan cinta kebinekaan etnisitas dan
kerukunan umat beragama, maupun K.H. Abdurahman Wahid yang telah melindungi dan
mengakui umat Konghucu secara konstitusi di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Referensi:
1.
Harian SIB, ditulis oleh kontributor P. Saut
Silaban yang dituangkan di www.silaban.net
2.
Kompas.com
Komentar
Posting Komentar