Mengintip Istilah Darah Biru
Oleh:
Ardin Silalahi
Konon
kurun waktu yang tidak diketahui persis, abad pra-modern, di sebuah negeri dataran
Eropa, Spanyol berdiam sebuah kerajaan yang masyur dan makmur. Raja dan para
kerabatnya hidup di istana mewah dengan segala kelimpahan makanan. Orang-orang
yang berdiam di istana tak capek-capek bekerja menggarap tanah atau beternak.
Mereka menikmati upeti dari rakyat yang mengusahakan tanah yang berada di bawah
kekuasaan raja.
| google.com |
Masyarakat
penggarap kian hari tampak dekil dan kusam. Kulitnya berangsur kecoklatan.
Sebaliknya, raja dan kerabatnya hidup senang, kulit mereka semakin bersih dan
memutih. Acap kali berbaur di keramaian, perbedaan tersebut sangat mencolok dan
mudah mengetahuinya. Oleh sebab itu, kulit para pemukim istana tampak tembus
pandang dan pembuluh darah pun terlihat membiru. Beberapa puluh tahun kemudian
setiap keturunan raja dan kerabatnya disebutlah keturunan darah biru atau kaum
bangsawan.
| google.com |
Barangkali
dari sanalah istilah darah biru bermula, kemudian menyebar ke negeri-negeri
yang jauh dan bersua di republik Indonesia merdeka. Penyebaran itu berhasil dan
telah menjadi istilah yang sering didengar telinga. Keturunan raja-raja di
seluruh negeri, baik Sunda maupun keturunan raja-raja Jawa tak jarang menyebut
diri sendiri masih memiliki ikatan ningrat atau keturunan bangsawan yang
barangkali hidup tak berkekurangan. Lalu istilah ningrat ini menetaskan istilah
darah biru, yang secara tak langsung membentuk simbol dan penanda
kebangsawanan, kehormatan dan kekuasaan.
Namun
berbeda halnya dengan keturunan raja-raja Mataram, yang identik dengan kerajaan
Hindu Bali. Di Bali, tidak hanya keturunan raja saja yang mendapat istilah
darah biru, tapi juga yang disebut Tri Wangsa yaitu para kaum brahmana, ksatria dan waisya. Kaum
ini identik dengan kelimpahan harta benda di masanya dan mendapat posisi
tertinggi di masyarakat.
Dengan
demikian dapat disimpulkan, sebutan darah biru itu dikarenakan adanya hubungan
darah antara raja-raja dulu hingga ke keturunan kesekian yang masih hidup di
masa kini, dan masih adanya jalinan kekeluargaan yang kental dengan orang-orang
yang dulu terpandang dan berpengaruh pada peradaban masyarakat.
Referensi:
Wikipedia.org ; http://abdallaoke.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar