Kakakku, Pahlawanku
Oleh: Ardin Haposan Silalahi*
Rumah kami di renovasi saat aku duduk di
bangku SMA. Dengan kondisi keluarga yang serba kekurangan tampaknya hal itu harusnya
tidak mungkin terjadi. Dulunya dinding rumah terbuat dari ayaman bambu,
sekarang sudah berdiri tembok kokoh. Atap rumah yang dulunya berbahan daun
rumbiah, kini sudah bermaterial seng. Dulu hampir setiap atap rumah bocor dan
mengeluarkan bias cahaya di siang hari. Kalau hujan turun lantai rumah tidak
tergenang air lagi. Aku dan ibu tidak lagi menyiapkan ember-ember penampungan
air. Tidurku tidak lagi terganggu saat hujan deras mengguyur di malam hari. Itu
karena peran kakakku. Dia memberikan seluruh tabungannya untuk merenovasi rumah
dan membuat kami semua nyaman jika
berdiam di rumah.
Selain dinding dan atap, kamar mandi dan
sumur juga menjadi perhatian kakakku. Saat ini rumah sudah punya bak mandi dan
toilet beserta safety tank-nya. Air
yang biasanya didapat dari sumur galian secara manual, kini sudah menggunakan
mesin atau istilah sekarang disebut sumur bor. Sebenarnya tabungan yang kakak
miliki hanya cukup untuk renovasi atap dan dinding saja, namun melebihi dari
perkiraan. Terakhir kudengar kakakku meminjam uang dari koperasi buruh tempat
dia bekerja dan menjual perhiasannya.
Herlina nama kakakku. Dia merupakan anak
ketiga dari tujuh bersaudara. Sekitar tahun 1995 kakak merantau ke kota Medan
bermodalkan ijazah SMK. Kurang lebih sudah 15 tahun bekerja sebagai buruh
pabrik sepatu di kota Medan. Kala itu upah buruh pabrik sangat kecil. Pekerjaan
itu pun berakhir setelah kakak dipinang oleh pria yang kemudian menjadi kakak
iparku di pertengahan tahun 2010.
Sejak ayah masih hidup dan setelah meninggal
pun kakak sering pulang kampung. Jarak tempuh dari kota Medan ke kampungku
dengan menggunakan bus umum kurang lebih tiga jam perjalanan. Nama kampungku
Pematang Bandar, Kab. Simalungun. Terkadang kakak pulang kampung hanya sekedar
membeli kebutuhan sehari-hari di rumah seperti minyak goreng, gula, susu, sabun
mandi, pasta gigi dan deterjen. Tak lupa sesekali kakak membeli obat asma dan
minyak pijat untuk ayah. Ayah mengidap penyakit asma, kemungkinan besar hal itu
disebabkan karena terlalu lelah bekerja di sawah.
Selain itu, setiap pulang kampung kakak tak
pernah lupa memijat ibu. Sembari bercerita kakak dengan tulus memijat ibu mulai
dari ujung kaki hingga kepala. Tak jarang ibu tertidur karena mungkin pijatan
kakak sangat manjur. Kakak Herlina dengan tulus memijat dan tidak akan meminta berhenti
jika bukan ibu yang lebih dulu meminta. Kakak selalu saja memijat.
Pernah suatu kali kudengar kakak ingin
membeli kalung emas untuk ibu. Ibu senang mendengarnya karena ibu tidak punya
perhiasan kala itu. Rencana itu pun terwujud setelah kepulangan kakak
berikutnya dengan membawa kalung yang dijanjikan.
Masa kuliah
Tahun 2005 aku lulus SMA. Sama sekali aku
tidak punya rencana untuk kuliah. Ibu dan saudara-saudaraku yang lain juga
tidak pernah menyarankanku untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi, bahkan mendukung pun tidak. Kenyataan itu cukup pahit dan sangat
beralasan, yaitu tidak punya uang. Bisa kuliah itu hanya mimpi.
Namun tekad dan kesempatan berkata lain. Aku
sangat ingin kuliah dan akhirnya terwujud setelah kakak Herlina bersedia
membantu biayanya. Awalnya aku hanya kuliah mengambil jenjang diploma di salah
satu sekolah tinggi di Medan. Karena karena kata teman-teman gelar diploma
tidak menjamin dapat kerja yang baik, aku pun pindah kampus dan mengambil
jenjang strata 1. Jenjang diploma yang telah kujalani setahun sia-sia karena
aku memulai dari semester pertama di kampus yang baru.
Soal perpindahanku tidak terlepas dari peran
kakak Herlina. Dia yang selalu memberikan dukungan doa dan materi. Saat
mendaftar di kampus yang baru aku diwajibkan bayar di biaya kuliah satu
semester, kakak Herlina yang menyiapkannya. Begitu juga dengan biaya inisiasi. Tak
hanya itu kakak juga sering bayar uang kosanku dan memberikan biaya hidup
sehari-hari, karena kakak tahu bahwa ibu tidak sanggup menyiapkan seluruh
kebutuhanku.
Lalu pernah suatu ketika aku datang ke
kontrakan kakak untuk meminta uang. Saat itu aku sama sekali tidak memiliki
uang lagi untuk makan dan untuk ongkos angkot ke kampus. Berhubung karena
tanggal tua atau minggu terakhir di akhir bulan, kakak tidak punya uang. Namun
terlebih dahulu kakak mempersilahkanku makan dan bertanya seputar kuliahku.
Tanpa memberitahukan tujuanku kakak sudah tahu maksud kedatanganku. Dan kakak
pun meminjam uang dari teman kontrakannya dan memberikannya kepadaku.
Terakhir yang paling berharga bagiku ialah
saat kakak Herlina memberikanku uang lima juta rupiah. Saat itu kakak sudah
menikah sekitar 2 bulan lamanya. Uang tersebut ialah uang jamsostek selama
kakak bekerja dan saya gunakan untuk biaya kuliah, biaya menyusun skripsi dan
untuk biaya wisuda. Kakak Herlina berpesan agar aku tidak memberitahukan hal
itu kepada kakak iparku.
Aku pun lulus sarjana bulan Desember 2010.
Itulah kenapa aku memilih kakak Herlina menjadi sosok pahlawan dalam hidupku.
Bukan pahlawan atas jasa-jasanya membela negara atau mempertahankan tanah air,
namun hanya pahlawanku sehingga aku mendapat gelar sarjana dan juga pahlawan
bagi kedua orangtua dan saudara-saudaraku.
*Bergiat di Komunitas Mata-Kata
Komentar
Posting Komentar