Postingan

Calon Pengantin dari Surga

Calon pengantinku adalah tipe gadis kebanyakan. Rajin. Dia rajin melakukan segalanya sesuatu, terlebih urusan kebersihan. Dia sangat suka melihat semua sudut rumahnya bersih. Mulai dari hal kecil tidak pernah luput dari gilasan matanya. Urinor kamar mandi yang penuh dengan rambut dibersihkannya sekali dalam sehari. Bak mandi yang sedikit saja menguning dan menghitam disikatnya. Air di bak mandi yang terlihat sedikit kotor dikurasnya. Gayung untuk mandi disikat juga olehnya dua kali seminggu. Demikian juga toilet tidak pernah luput dari mata dan tangannya yang rajin bersih-bersih. Dia adalah calon istriku terkasih. Tidak hanya seluruh isi kamar mandi, dia juga sangat suka melihat kamar tidur bersih. Oleh sebab itu, dua kali dalam seminggu digantinya sprei kasur miliknya dengan yang baru dicuci bersih dan diberi wewangian. Sarung bantal yang dia ganti setidaknya sekali dalam seminggu. Demikian juga kasur miliknya sering dibawanya ke bawah sinar matahari, dan disinari di bawah terik ...

cerber...

Ibuku lahir tahun 1948. Setidaknya begitu tertulis di ktp lama. Ktp itu dicetak kertas dan dilaminatang. Ibu tidak tahu persis tanggal dan bulan lahirnya. Demikian juga aku tidak tahu tanggal, bulan dan tahun lahir ibuku. Pernah suatu ketika aku bertanya tanggal lahir ibu. Ibu benar-benar tidak ingat. Mungkin karena orang tua dari ibuku buta huruf dan sehingga tidak bisa menceritakan persis hari, tanggal, bulan dan tahun kelahiran ibu. Atau mungkin saja saat itu tidak ada kalender di rumah sehingga kakek-nenekku sulit menjelaskannya. Atau mungkin ibu tidak pernah bertanya kepada orang tuanya. Tapi ibuku bukanlah tuna aksara. Aku terima surat itu dari tangan ibu. Aku gugup   karena belum sepenuhnya percaya sebelum membaca isi surat itu. Sejenak aku teringat desas desus tetanggaku mengenai banyaknya siswa/i SMA di sekolah lain yang tidak lulus UAN. Aku pikir tidak mungkin aku tinggal kelas. Tidak mungkin aku harus setahun lagi duduk di bangku kelas 3 SMA. Tidak, itu tidak boleh...

Surat Kelulusan..

Cerber Oleh: Ardin Silalahi Semakin aku meragukan kemampuan ibuku seusai menjalani ujian akhir nasional tahun 2005. Aku juga meragukan teman-teman SMA-ku saat hampir tidak ada   terdengar cerita tentang itu. Tidak terdengar oleh telingaku, juga oleh telinga guru-guruku tentang kami yang akan melanjutkan studi hingga perguruan tinggi. Aku juga tidak mendengar cerita ibuku yang mungkin bercerita tentang orangtua dari teman-temanku kala mereka tiba di sekolah atas undangan bapak kepala sekolah untuk menyampaikan surat kelulusan kami. Aku juga tidak mendengar dari mulut ibuku saat dia memberikan amplop itu padaku. Amplop yang di dalamnya terdapat secarik kertas bertuliskan anak Anda dinyatakan LULUS. Aku adalah anak ke tujuh dari tujuh bersaudara. Aku dilahirkan dari keluarga kurang mampu. Baru berusia kira-kira enam bulan ibuku sering meninggalkanku. Setidaknya begitu cerita saudara perempuanku yang terbiasa mengantarku ke sawah tempat ibuku bekerja upahan untuk sekedar...

Menulis, Aksi Imaji Tingkat Empat

Opini Oleh: Ardin Silalahi Begitu banyak artikel bahkan jurnal yang memberi gagasan jitu bagaimana menulis yang baik dan disukai banyak orang. Mulai dari gagasan hanya untuk sekedar menulis diari tiap hari, hingga menulis karya ilmiah, beberapa yang menekuni dunia menulis barangkali sudah menuangkan tips menulisnya hingga dibaca setiap orang yang mau dan berujung tertarik untuk sekedar mencoba. Rupanya memang tiada habis-habisnya – sekedar   menyadarkan, sedikit menggugah dan menanamkan ketertarikan beberapa orang untuk menulis. Itu merupakan masalah lain manakala pembaca tidak sedikit pun membuka hati untuk memulai kendati hanya menggoretkan aktifitasnya sehari-hari. Teringat seorang teman pernah bilang: apa saja yang terlintas dipikiran, tulislah! Tidak usah pikir apakah itu hanya kata, prasa atau kalimat sederhana. Permulaan sederhana namun rupanya berdampak besar jikalau itu semakin diasah. Tahun 2012 saya pernah menulis ulasan singkat mengenai resep menulis da...

Gara-gara Tuak…Orang Batak di Tanah Rantau!

Cerpen  Oleh: Ardin Silalahi Salah satu yang paling penting yang ibu katakan saat aku hendak merantau, “kalau sudah sampai langsung cari Gereja”. Bagaimana mungkin aku langsung cari gereja bukan cari rumah kos atau rumah teman atau keluarga untuk menumpang. Hampir begitu yang terjadi saat pertama kali aku tiba di Muara Enim, Sumsel. Sehari setelah aku tiba di kota kecil ini, malam harinya berniat mencari alamat gereja. Saat itu Sabtu malam. Aku takut kalau esok harinya mencari-cari alamat gereja lalu tidak ketemu atau ketemu setelah lama mencari, tentulah aku akan ketinggalan acara ibadah, atau bahkan gereja mau ditutup karena jemaat sudah pada pulang dan acara ibadah selesai.  Seringkali tiap gereja jam ibadahnya berbeda. Kalau di kampungku ibadah jam 10 pagi di gereja HKBP, satu-satunya jam ibadah, bukan karena jemaatnya sedikit atau gerejanya terlalu besar sehingga seluruh jemaat dalam sekali ibadah cukup, tapi karena kalau jam 6 atau jam 7 pagi pastinya jemaat m...