Calon Pengantin dari Surga

Calon pengantinku adalah tipe gadis kebanyakan. Rajin. Dia rajin melakukan segalanya sesuatu, terlebih urusan kebersihan. Dia sangat suka melihat semua sudut rumahnya bersih. Mulai dari hal kecil tidak pernah luput dari gilasan matanya. Urinor kamar mandi yang penuh dengan rambut dibersihkannya sekali dalam sehari. Bak mandi yang sedikit saja menguning dan menghitam disikatnya. Air di bak mandi yang terlihat sedikit kotor dikurasnya. Gayung untuk mandi disikat juga olehnya dua kali seminggu. Demikian juga toilet tidak pernah luput dari mata dan tangannya yang rajin bersih-bersih.

Dia adalah calon istriku terkasih. Tidak hanya seluruh isi kamar mandi, dia juga sangat suka melihat kamar tidur bersih. Oleh sebab itu, dua kali dalam seminggu digantinya sprei kasur miliknya dengan yang baru dicuci bersih dan diberi wewangian. Sarung bantal yang dia ganti setidaknya sekali dalam seminggu. Demikian juga kasur miliknya sering dibawanya ke bawah sinar matahari, dan disinari di bawah terik matahari itu. Setidaknya begitu jawaban yang aku peroleh ketika sering kali aku bertanya dari ujung telepon ‘lagi ngapain, dek’?

Tiga kali dalam sehari lantai rumah di sapunya. Debu-debu yang menempel di badan lemari dibersihkannya menggunakan kemoceng bulu ayam. Meja makan dan kursi dilapnya hingga cerminan wajah sendiri tampak jelas di matanya. Kawanan laba-laba tidak pernah sempat mengotori langit-langit rumah dan dinding rumah yang dicat putih.

Semuanya bersih. Noda sekecil apapun tidak sekali pun luput dari santapan matanya. Mata yang bening dan berkilau. Mata itu, mata yang tajam dan fokus terhadap hal yang kotor dan jorok. Mata yang selalu membuatku was-was kala aku memakai baju dan celana lebih dari sekali sebelum dicuci.

***
Suatu hari di ketiadaan cahaya dan sepi, Putih kembali entah dari mana. Sudah sebulan aku mencarinya di banyak tempat. Kucari di tempat yang sering dia kunjungi namun aku tak menemukannya.  Mungkin dia pergi ke tempat yang biasa kami kunjungi selama tiga tahun terakhir. Tetap saja Putih tak ada disana. Aku mencarinya di kantor, dia tidak ada. Kucari dia di taman kota, tempat kami pernah berdua ditemani burung merpati, juga tidak kutemukan.

Aku tidak juga berhenti mencari. Aku pergi ke Bogor ke kebun teh yang pernah dia kunjungi, berharap aku bisa menemukannya, namun tak kunjung kutemukan. Aku beribadah di gereja yang tiap minggu dia ibadah. Mataku kian kemari menyapu setiap orang yang ada di gereja, Putih belum juga kutemukan.

Putih tidak mengabariku sebelum dia beranjak meninggalkan rumah. Aku tidak tahu dimana keberadaan. Harapanku sudah hilang. Kuputuskan untuk berhenti mencarinya. Tetiba telpon genggamku meraung-raung.
Bang, aku sudah sampai di surga. Kau tidak perlu lagi mencariku. Aku sangat bahagia disini. Disini semua sudah tersedia. Aku tidak perlu lagi mengusahakan makananku sehari-hari. Aku tidak perlu lagi bekerja dari pukul 8:30 hingga pukul 18:00 atau 19:00 hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupku.

Bila lapar aku tinggal memetik buah di taman ini. Taman ini Bang, taman yang tertulis di kitab yang biasa kita bawa ketika ibadah di gereja. Kau pasti tahu nama taman ini. Pohon-pohon di taman ini tidak pernah layu. Setiap pohon menghasilkan buah yang baik dan segar-segar. Aku suka sekali makan buah. Tidak satu pun buah dari pohon-pohon yang tumbuh di taman ini masam atau busuk-berulat seperti buah pohon jambu yang tumbuh di halaman sekolah, di dekat kantin dan di depan ruang bapak kepala sekolahmu dulu. 

Ketika haus aku pergi ke sungai dan minum airnya. Air sungai disini sangat bersih dan jernih, tidak perlu dimasak lagi. Tidak seorang pun tega buang sampah sembarangan, apalagi buang hajat. Tidak seorang pun. Air sungai disini tidak pernah sekalipun meluap hingga membajari rumah warga. Juga air sungainya tidak pernah kering. Kata pemiliknya ini adalah sungai kehidupan.

Disini tidak ada suap. Aksi suap-menyuap untuk meloloskan sebuah proyek tidak ada disini. Disini tidak ada proyek. Bila pun ada, penduduk disini tidak serakah dan rakus. Bang, kau juga tak akan temukan aksi tipu-tipu politik di negeri surga ini. Perselingkuhan, pembunuhan, narkoba dan miras sama sekali tidak akan kau temukan. Bahkan kata itu pun tidak ada di KBBS (Kamus Besar Bahasa Surga) terbitan Balai Surga.

Demikian juga tidak ada kamus Tesaurus disini, kamus yang sangat ingin kau miliki semasa mahasiswa dulu. Kau tahu akan bagaimana jadinya bila kamus itu ada disini. Bila pemimpin pemerintah surga menghimbau mengamankan aksi demo warga surga, itu berarti memang benar memberikan rasa aman saat demo. Bukan malah memukul mundur, menembak, atau menghilangkan mereka.

Bang, sudah tiga tahun aku disini. Banyak hal yang kulihat disini, kurasakan dan kunikmati dalam setiap perjalanan hidupku selama tiga tahun ini. Semuanya sempurna. Aku tidak memikirkan masa depan, persiapan pernikahan, pulsa yang sering kali habis hanya untuk menelponmu. Aku tidak memikirkan harus pakai baju apa, harus makan apa hari ini. Aku tidak pernah kecewa dengan menu makanku yang itu-itu saja. Aku tidak pernah malas makan. Dan aku juga tidak pernah mengeluarkan duit untuk membeli baju dan sepatu untuk kuberikan ke pacarku. Karena pacarku dan aku sudah punya segalanya.

Masih banyak yang ingin kuceritakan kepadamu,  hal yang belum kau ketahui dariku dan merupakan rahasia besar bagimu. Kau belum tahu mengapa aku sangat suka setiap hal yang bersih. Mengapa aku tidak suka melihat lantai yang kotor. Mengapa aku tidak tega mandi dengan air kotor dari bak mandi kotor. Dan mengapa aku begitu sukanya membersihkan sprei, sarung bantal dan selimut tidurku.

***
Air mengalir deras. Hujan turun deras. Aku tersadar Putih sudah berada di surga tiga tahun terakhir. Entah mengapa dia tidak memberitahu aku sebelum dia berangkat. Mungkin saat itu dia dapat panggilan mendadak oleh kepala pemerintah surga, sehingga dia tidak sempat pamit dan meninggalkan pesan singkat.

Lantas siapa gadis itu, gadis yang saat ini aku berhubungan dekat dengannya, gadis yang suka kebersihan? Mungkinkah dia jelmaan dari Putih? Atau mungkin dia malaikat dari surga yang bereinkarnasi jadi manusia biasa?


Komentar