Surat Kelulusan..
Cerber
Oleh: Ardin Silalahi
Semakin aku meragukan kemampuan ibuku seusai menjalani ujian
akhir nasional tahun 2005. Aku juga meragukan teman-teman SMA-ku saat hampir
tidak ada terdengar cerita tentang itu.
Tidak terdengar oleh telingaku, juga oleh telinga guru-guruku tentang kami yang
akan melanjutkan studi hingga perguruan tinggi. Aku juga tidak mendengar cerita
ibuku yang mungkin bercerita tentang orangtua dari teman-temanku kala mereka
tiba di sekolah atas undangan bapak kepala sekolah untuk menyampaikan surat
kelulusan kami. Aku juga tidak mendengar dari mulut ibuku saat dia memberikan
amplop itu padaku. Amplop yang di dalamnya terdapat secarik kertas bertuliskan
anak Anda dinyatakan LULUS.
Aku adalah anak ke tujuh dari tujuh bersaudara. Aku
dilahirkan dari keluarga kurang mampu. Baru berusia kira-kira enam bulan ibuku
sering meninggalkanku. Setidaknya begitu cerita saudara perempuanku yang
terbiasa mengantarku ke sawah tempat ibuku bekerja upahan untuk sekedar
memberikanku ASI. Aku membenarkan cerita saudara perempuanku itu kala malam ibu
bercerita pernah aku dibawanya ke sawah di terik matahari ketika itu.
“Kenapa anaknya sudah dibawa ke sawah Inang, tuh lihat
wajahnya sudah merah.”
“Ngak ada yang jaga di rumah, abang dan kakaknya sekolah,”
sahut ibuku.
“Kasihan bayinya Inang…”
Pada malam ibuku bercerita usiaku hampir genap 28 tahun.
Tiba-tiba saja teringat oleh ibu masa di usiaku yang masih balita. Dia teringat ketika kami sedang terbawa arus
cerita tentang persiapan pernikahanku.
“Hallo bu..apa kabar?”
“Sehat. Disana apa kabar?” sambar ibu dari ujung telepon.
“Sudah sejauh mana persiapan kalian? Ngak terasa ya bulan tujuh kau sudah
menikah.”
“Sehat bu. Dana kami belum cukup bu. Doakan ya bu supaya
semuanya lancar. Pekerjaan lancar. Kami sehat selalu di perantauan, dan bisa
menabung.”
“Iya Amang..”
Lalu kisah ibu yang pernah meninggalkanku bersama ayah,
abang dan kakakku. Ibu pergi
merantau saat
usiaku sekitar setahun. Aku masih butuh ASI kala itu. Ibu pergi ke daerah lain
hingga sebulan lamanya untuk bekerja upah harian memanen sayur dan buah. Saat
itu di kampung sedang musim rehab sehingga
ibuku menerima ajakan ibu-ibu lain. Sebulan berlalu.
“Bu nenen,” pintaku.
Setidaknya begitu kata ibu sambil tertawa saat aku
melihatnya pertama kali setelah sebulan berlalu.
“Ngak boleh Amang, pahit, pahit…” ibu meyakinkanku. Mungkin
supaya aku stop minum ASI. Mungkin supaya ibu tidak lagi berat hati
meninggalkanku lagi.
***
Seminggu sudah hujan turun. Seperti malam ini dan
malam-malam sebelum malam ini, hujan masih juga turun. Benar, malam ini hujan
memang sedang turun. Aku tidak mengada-ada. Hujan yang tidak diharapkan para
petani padi kala hamparan padi di sawah telah menguning dan siap dipanen. Hujan
yang begitu diharapkan sekawanan kodok yang berenang bebas di comberan. Lalu
kemudian kodok-kodok itu meloncat-loncat kian kemari kegirangan dan tak sadar
telah terperangkap di kamar kontrakanku. Pikiranku lalu menyelinap masuk ke
kedalaman histori di akhir masa SMA-ku dulu.
Kau tahu hanya seorang saja di antara teman sekelasku yang
berencana melanjutkan studi setamat SMA. Dia adalah perempuan paling rajin di
kelas kami. Dia juga merupakan siswa yang paling disenangi oleh guru
mate-matika dan guru PPKn. Dia diberi kepercayaan sebagai sekretaris kelas oleh
wali kelas. Tidak ada di antara kami yang komentar saat dia terpilih secara
aklamasi oleh ibu wali. Kami semua setuju dia menjabat posisi itu tanpa
dilakukan pemungatan suara, seperti yang baru-baru ini terjadi di Sanur, Bali
(Megawati terpilih lagi sebagai Ketua Umum PDI-P).
Perempuan itu SDLP. Selalu Datang Lebih Pagi. Demikian aku
memberi gelar kepadanya. Gelar yang tampaknya tiada seorang pun kecuali aku
yang menggelarinya. Jarak tempuh dari rumahnya ke sekolah tidak terbilang
dekat. Beberapa kali aku melihat dia diantar oleh bapaknya ke sekolah naik
motor. Meski jalanan dia lalui tiap hari turunan dan berbatu, SDLP selalu
datang lebih pagi.
Tak banyak kami bercerita tentang rencana studi kelak
setelah lulus. Aku juga begitu. Tapi siang itu, seusai ujian mata pelajaran
terakhir sebelum kami akan berpisah sebulan lamanya hingga info kelulusan
keluar, kami berkumpul dengan beberapa teman dan bapak kepala sekolah. Siang
itu tepat di bawah pohon jambu di dekat kantin di depan ruangan kepala sekolah.
“Kalau lulus nanti, kamu mau lanjut kuliah?” tanya bapak
kepala sekolah kepadaku.
“Tidak pak, aku khawatir sama ibu,” jawabku dengan kepala
menunduk
“Kenapa?”
“Aku khawatir sama ibu.”
“Apa yang kamu khawatirkan, biaya?”
“Bukan pak.”
“Lalu?”
Aku diam. Aku berkata dalam hati. Aku khawatir manakala ibu
akan selalu terlambat sarapan karena harus
berangkat ke sawah lebih pagi. Aku khawatir ibu akan digonggong anjing
kala pemiliknya masih tidur nyenyak dan berselimut karena hawa masih dingin.
Aku khawatir bilamana ibu tidak benar-benar memperhatikan langkahnya karena
masih gelap ketika embun masih bertengger di rumput yang tumbuh di pematang
sawah. Aku khawatir kalau kalau ibu akan lupa istirahat saat sudah waktunya
istirahat. Aku khawatir ibu akan bekerja melebihi batas kemampuannya. Sebab,
hanya ibu seorang yang menafkahiku, membayar uang sekolahku yang terkadang
lewat jatuh tempo dari yang ditetapkan pihak sekolah. Itu semua yang aku
khawatirkan.
“Kalau kamu?” tanya bapak kepala sekolah kepada SDLP
“Rencana kuliah sih ada pak, tapi disini saja. Bapak
melarangku kuliah ke kota provinsi.”
“Bagus itu. Di mana pun kuliah asal ditekuni, pasti bisa.”
Lalu siang itu, di bawah pohon jambu air, di dekat kantin di
depan ruangan kepala sekolah, terakhir kami bertatap wajah dalam sebulan ke
depan, hingga informasi kelulusan sekolah diumumkan.
***
Sebulan berlalu di tengah kegundahan hati. Lulus atau tidak.
Sesaat teringat olehku kepada pohon jambu yang tumbuh rindang persis di dekat
kantin di depan ruangan bapak kepala sekolah. Apa pohon itu masih rindang. Apa
sudah ditebas setelah kami tidak lagi berteduh di bawahnya ditemani cerita
masa-masa SMA. Apa pohon itu sedang merindu dan berharap bisa segera mendengar
cerita kami.
Mungkin saja pohon itu sudah dijadikan kayu bakar oleh istri
bapak kepala sekolah untuk memasak dagangan kantin. Istri bapak kepala sekolah
kan tidak suka dengan pohon itu ketika berbuah. Tiap pagi dia harus menyapu
bunga dan buah-buah busuk yang jatuh sendiri. Sebelum lonceng perkasa berdenting
keras pertanda senam pagi akan dimulai. Persis pukul tujuh, halaman kantin
sudah harus bersih. Sebab halaman kantin juga merupakan halaman sekolah kami.
Tidak seorang pun dari kami alumni 2005 menyukai buah pohon jambu itu. Itulah
sebabnya jatuh sendiri kemudian berserakan mengotori halaman.
Hari itu pun tiba. Hari dimana aku masih ingat jelas:
Mengambil surat kelulusan. Bapak kepala sekolah berpesan agar mengambil surat
kelulusan ditemani orangtua. Berbanding terbalik denganku. Kala itu aku di
perantauan untuk mengisi kegiatanku. Aku tidak bisa menerima langsung surat
kelulusanku. Ibu yang datang ke sekolah dan menerima surat itu.
“Nah, baca dulu surat ini. Katanya kau lulus, tapi aku belum
baca. Baca keras-keras.” Ibu menyodorkan surat kelulusan itu padaku setelah aku
tiba di rumah.
“Memangnya ibu benar-benar belum baca?”
Tampaknya ibu ingin dengar langsung dari mulutku mengenai
kelulusanku. Sebenarnya ibu sudah tahu bahwa aku lulus saat tiba giliran namaku
dipanggil dan lalu ibu menerima surat itu dari tangan bapak kepala
sekolah.“Kepala sekolah bilang kau lulus,” tambah ibu.
Sama sekali ibu belum baca surat itu. Barangkali ibu
meragukan perkataan bapak kepala sekolah. Boleh jadi ibu malu membaca surat itu
di sekolah. Mungkin saja ibu kurang percaya bahwa aku bisa lulus ujian. Atau,
apa ibu buta huruf. Tidak, ibu bisa baca. Meski ibu tidak lulus Sekolah Rakyat
(SR), aku yakin ibu bisa baca. Ibu merupakan anggota koor ibu-ibu gereja, jadi
tidak mungkin ibu buta huruf. Lalu kenapa ibu belum baca hingga hari ini. Aku
terus saja menduga-duga. Apa ibu bertemu orangtua dari teman-temanku persis di
bawah pohon jambu di dekat kantin dan di depan ruangan bapak kepala sekolah,
lalu bercerita tentang rencana studi lanjut anaknya. Apa sejak itu ibu diam
seribu bahasa saat tidak bisa menjawab pertanyaan ibu-ibu tentang anaknya yang
tidak lanjut studi.
Bersambung….
Komentar
Posting Komentar