Gara-gara Tuak…Orang Batak di Tanah Rantau!


Cerpen 
Oleh: Ardin Silalahi

Salah satu yang paling penting yang ibu katakan saat aku hendak merantau, “kalau sudah sampai langsung cari Gereja”. Bagaimana mungkin aku langsung cari gereja bukan cari rumah kos atau rumah teman atau keluarga untuk menumpang. Hampir begitu yang terjadi saat pertama kali aku tiba di Muara Enim, Sumsel. Sehari setelah aku tiba di kota kecil ini, malam harinya berniat mencari alamat gereja. Saat itu Sabtu malam. Aku takut kalau esok harinya mencari-cari alamat gereja lalu tidak ketemu atau ketemu setelah lama mencari, tentulah aku akan ketinggalan acara ibadah, atau bahkan gereja mau ditutup karena jemaat sudah pada pulang dan acara ibadah selesai. 

Seringkali tiap gereja jam ibadahnya berbeda. Kalau di kampungku ibadah jam 10 pagi di gereja HKBP, satu-satunya jam ibadah, bukan karena jemaatnya sedikit atau gerejanya terlalu besar sehingga seluruh jemaat dalam sekali ibadah cukup, tapi karena kalau jam 6 atau jam 7 pagi pastinya jemaat masih tidur nyenyak, ngorok karena terlalu capek bekerja di sawah di hari sebelumnya sehingga butuh istirahat lebih. Atau bisa jadi karena Sabtu malam begadang bermain judi atau minum tuak terlalu banyak di warung langganan. Terlalu banyak minum tuak itu bisa buat malas bangun karena badan masih terasa berat dan kepala terasa nyut-nyut. Namun, kalau ibadah jam 4 sampai 6 sore, tentu gereja sepi karena jemaat ke sawah lagi melanjutkan pekerjaannya, atau sudah berada di warung tuak. Lagi-lagi tuak..hehehe

Di kampungku minum tuak sudah jadi kebiasaan atau semacam kebutuhan bagi para bapak-bapak, bahkan terkadang remaja dan naposo juga suka minum tuak. Anehnya ibu-ibu juga ikut minum tuak. Mulai pukul 5 sore biasanya kedai-kedai tuak sudah mulai beroperasi. Gerai dibuka. Meja dan kursi disusun rapi. Tuak dalam jerigen dituang ke ember penampungan, dikasi kulit raru. Jadi sayang sekali jika ibadah di gereja diadakan pukul 5 sampai 7 sore seperti yang biasa terjadi di kota-kota besar. Tentulah nanti gerejanya sepi dari jemaat. 

Bagi bapak-bapak, remaja-naposo dan beberapa ibu di kampungku minum tuak bukan untuk mabuk. Ingat bukan untuk mabuk bro..!!! Bagi bapak-bapak minum tuak biasanya untuk menghilangkan lelah, untuk hanya sekedar ngota-ngota dengan teman-teman. Sebab ngota-ngota di warung sambil minum tuak itu sangat seru dan ceritanya tiada putus-putusnya. Kadang kala kita tidak sadar apa yang kita ucapkan kalau sudah masuk 3-4 gelas. Ibuku juga suka minum tuak. Katanya kalau ibu sudah minum tuak badan terasa ringan dan membuat tidur nyenyak. 

Tuak menurut ibuku bagaikan pil tidur yang bisa membuat tidur cepat dan nyenyak. Tuak bagaikan obat alami bagi ibuku. Bayangkan kalau semua orang yang susah tidur minum tuak dan tidak minum pil tidur, barangkali pengusaha obat tidur pasti bangkrut dan gulung tikar. Sebaliknya para pemilik lapo (warung tuak) akan sukses dan berjaya. Bayangkan kalau apotik-apotik modern yang biasanya terdapat di kota besar menyuguhkan tuak kala konsumen minta obat tidur, betapa kayanya para penjual tuak. Lalu para penjual tuak akan beralih nama menjadi pengusaha tuak, mereka akan mendistribusikan tuak ke apotek-apotek, ke tiap rumah sakit atau mini market. Hahahaha..Mungkinkah??? Tak lagi bisa dibayangkan ketika di rumah sakit para pasien terserang penyakit insomnia minum tuak layaknya di lapo, sambil nyanyi-nyanyi pakai gitar atau ngota-ngota dengan suara kencang hingga tengah malam. Para dokter ahli penyakit jantung akan kebingungan akan dipindah kemana para pasiennya yang menderita penyakit jantung. Tak tahu seperti apa jadinya. Atau para penderita penyakit gigi dan gusi bakal merasa bising setengah mati. 

Saat distribusi tuak ke apotek, rumah sakit dan mini market sukses, maka para pengusaha tuak akan semakin mengembangkan usahanya. Mungkin akan banyak berdiri restoran dengan menu minuman utamanya tuak, atau lapo kelas kaki lima, pinggir jalan akan buka seperti warung pecel yang sangat menjamur di kota-kota.

Nah, malam itu aku dan temanku sekamar pergi mencari alamat gereja dan kami menemukannya. Setelah bertanya ke pasangan suami-istri yang kemudian kami ketahui adalah pemilik lapo dan jual tuak.
“Itu gereja HKBP, yang ada lampu nyala.”
“Oh ya bu..”
“Orang mana, marga apa,” tanya suami si ibu sigap dengan bahasa batak.
“Orang Sumatera Utara, Simalungun. Margaku Silalahi. Jual tuak ya?” tanyaku.
“Iya, tambul juga ada.”
“B2?” tanyaku cepat sebab sudah hampir 4 bulan tidak makan daging B2
“Bukan. B1 yang ada. Besok baru masak tambul B2.”

Malam itu kami pesan tuak. Pertama-tama sebotol dulu. Obrolan dengan suami-istri itu semakin hangat setelah tuak dalam botol pertama habis. Tidak lupa pakai tambul B1.“Satu lagi tuaknya namboru (panggilan untuk keluarga dekat yang ada pertalian darah, atau orang lain untuk perempuan yang biasanya lebih tua dari kita: semarga atau bukan) dan B1 nya seporsi lagi,” aku memesan.

Amangboru (suami namboru) itu bercerita bahwa di daerah ini cukup banyak marga silalahi. Lalu dia meraih telpon genggamnya. Amangboru menelpon tetangganya yang bermarga sama denganku. Suara parau di ujung telpon menjawab bahwa akan segera datang ke lapo. Dari situlah ceritaku ini bermula. Itulah alasan kenapa aku menulis pengalaman singkat ini. Barangkali pengalaman singkat yang sepertinya telah memutus urat maluku. “Satu lagi B1 nya namboru.” Hehehhe
Kira-kira 20 menit kemudian tibalah pria setengah baya yang ditelpon amangboru pemilik lapo. Kami pun berkenalan.
“Aku marga silalahi amang, silalahi rumah sondi,” sambil menjabat tangan pria itu.
“Aku silalahi tolping,” jabatan tanganku disambutnya tapi kurang erat.
“Jadi manggora aha ma au?” (Jadi aku manggil apa?)

“Bapatua ma attong.” (Ayah tertua) Kira-kira begitu kalau diindonesiakan.
Setelah itu aku bertanya-tanya. Dalam hati aku bertanya mengapa bapatua itu tidak menjabat erat tanganku saat aku mengulurkan tangan untuk berkenalan. Mengapa aku merasakan tangannya serasa begitu lemas dan tak berdaya, saat aku antusias menjabat tangannya. Barangkali bapatua itu lelah seharian telah bekerja di kebun. Atau mungkin dia melihat aku masih muda dan belum menikah sehingga aku belum memiliki suara dalam tarombo (silsilah) marga. Bukan. Dia kan belum tahu apa aku sudah menikah apa belum. Aku sugguh tidak tahu. 

***
Pria yang kuajak bersamaku malam itu rekan sekantorku. Pertama kali aku tiba di kota ini disambut olehnya. Aku menumpang di kosnya. Untuk sementara aku menginap di kosnya hingga awal bulan setelah buget penginapanku cair dari kantor. Namanya Made Sumitre. Tentu Anda akan mengenali dia dari namanya. Malam pun semakin larut. Made mengambil kacang kulit untuk tambul tuak yang kami pesan. Dia tidak suka makan B1, apalagi dicampur darah. Dia sukanya makan B2, yang ketepatan tidak tersedia. Dia menimbang dari teori kesehatan, dan mungkin selera.  

Bersamaan dengan bapatua tadi, ada juga seorang pria gemuk, yang selanjutnya kuketahui anggota kesatuan (alat negara). Aku tahu dari kisah-kisahnya yang pernah tiga kali tugas di ujung Sumatera: Aceh. Kala itu pergolakan GAM untuk kemerdekaan Aceh, ceritanya. Semakin banyak tuak diminum cerita kami pun malam itu semakin panjang. Pria gemuk berkisah bahwa punya warung nasi favorit di kota ini. Dia tahu kalau bumbunya dicampur daun terlarang, daun sumber pergolakan di Aceh. Katanya dulu pria gemuk itu sudah biasa melihat pohon perlarang itu ditanam  di kebun-kebun warga. Katanya hingga berhektar pun sudah pernah dilihat olehnya. 

“Disana kan makanan kami seadanya. Jadi supaya selera makan besar, kami petik langsung biji pohon terlarang itu.”
“Oh ya..”
“Itu seperti biji merica dan andalima,” katanya cepat “kami lalu menumbuk biji itu dan langsung dicampur ke bumbu makanan.”

Pria gemuk itu bilang lahap sekali memakan masakan yang dicampur dengan daun maupun biji pohon terlarang itu. Meski menu seadanya tapi dikasi itu, dua piring pun habis, katanya penuh semangat. Itu dulu. Pria itu bukan pecandu. Dia hanya menceritakan sedikit saja sisi pengalamannya. Pengalaman waktu ditugaskan ke tanah rencong, serambi mekah Indonesia. 

Made terlihat sudah bosan. Dia tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Meski terkadang kami pakai bahasa persatuan toh dia belum tahu betul pokok obrolan kami. Sering kali dia manggut-manggut padahal tampaknya tidak mengerti. Aku sodorkan telpon genggamku untuknya memainkan aplikasi game. Hanya sebentar dia coba lalu tidak lagi. Kami semakin seru saja bercerita. Sesekali aku melihat Made tampak senang, untuk menutupi raut wajahnya yang sudah bosan.

Jarum jam berkejaran. Perlahan aku sudah terkena bius tuak. Sedikit saja alkohol tuak itu meracuni otakku. Seketika aku bertanya ke Made.
“Kamu pegang uang berapa?”
“15 ribu.”
“Serius 15 ribu?” aku terkejut. “Aku hanya pegang uang 20 ribu,”tulisku di telpon genggamku pada aplikasi note.

Kendati uang kami disatukan pasti tidak cukup bayar ini semua, aku berbisik ke Made. Awalnya aku tidak mau bapatua tahu, pria gemuk itu tahu, dan bahkan pemilik lapo tahu bahwa di dompet kami berdua hanya ada 35 ribu. Itu sungguh memalukan. Tidak mungkin kami hanya bayar tuak dan tambul kami sendiri. Malu dong. Sungguh tidak sopan kami hanya bayar pesanan kami sementara itu kali pertama aku bertemu dengan saudara semarga, dan dengan saudara sesuku di tanah rantau ini.
Dengan sedikit pusing aku memberanikan diri pamit ke ATM naik motor.
“Dari sini aja,” kata bapatua bercanda
“Tidak usah bapatua, aku ke ATM sebentar.”

Aku meninggalkan Made. Aku tidak ingin dia lama menunggu ditemani rasa bosan yang sangat. Drem..drem.. kuyalakan motorku. Aku melaju. Seketika itu turun gerimis, perlahan semakin deras. Tanggung kalau aku berteduh, pikirku. Aku melaju terus hingga selimut tubuhku basah kuyup. Dalam perjalanan aku ingat Vido. Dia pria yang kos di samping kamar Made. Dia pria baik dan ramah.  Dia selalu menyapa bro ke Made dan bahkan aku.

Sesampai di kos aku pinjam bajunya. Tidak hanya itu yang aku dapat. Dia menawarkan celana pendek, jaket lalu jas hujan. Aku merepotinya. Baru 2 hari numpang di kos Made, sudah sebaik ini si bro itu. Sebenarnya dalam hati aku malu merepotkan orang lain yang baru saja kukenal. Tapi tak apalah. Aku memang butuh itu semua. Sebelum berangkat tadi aku lupa minta kunci kos dari Made sehingga harus merepotkan Vido. Vido pun menelpon Made agar bersabar menunggu. Lalu aku pun mampir di ATM. Aku tarik sejumlah uang. Sesampai di lapo aku bayar dan tak lama pun kami pulang..

Aku melaju sepeda motor dengan kecepatan 40-50 km/jam. Aku sedikit pusing, kepala sedikit terasa oyong dan agak berat. Aku usahakan tetap fokus dan melaju lambat. Mungkin karena disirami air hujan tadi sehingga rasa pusingku tidak seperti pertama aku mengambil duit dari ATM. Keesokan harinya kisah ini kutulis..




Komentar