Menulis, Aksi Imaji Tingkat Empat


Opini
Oleh: Ardin Silalahi

Begitu banyak artikel bahkan jurnal yang memberi gagasan jitu bagaimana menulis yang baik dan disukai banyak orang. Mulai dari gagasan hanya untuk sekedar menulis diari tiap hari, hingga menulis karya ilmiah, beberapa yang menekuni dunia menulis barangkali sudah menuangkan tips menulisnya hingga dibaca setiap orang yang mau dan berujung tertarik untuk sekedar mencoba.

Rupanya memang tiada habis-habisnya – sekedar  menyadarkan, sedikit menggugah dan menanamkan ketertarikan beberapa orang untuk menulis. Itu merupakan masalah lain manakala pembaca tidak sedikit pun membuka hati untuk memulai kendati hanya menggoretkan aktifitasnya sehari-hari. Teringat seorang teman pernah bilang: apa saja yang terlintas dipikiran, tulislah! Tidak usah pikir apakah itu hanya kata, prasa atau kalimat sederhana. Permulaan sederhana namun rupanya berdampak besar jikalau itu semakin diasah.

Tahun 2012 saya pernah menulis ulasan singkat mengenai resep menulis dan beruntung diterbitkan oleh harian ini dengan judul “Mari Membaca, Kemudian Menulis.” Disana saya katakan menulis harus dijadikan makanan sehari-sehari, dan saya tambahkan membaca merupakan persiapan utama untuk menulis. Itulah aksi imaji tingkat satu: Membaca.

Semenjak mengenal Pramoedya Ananta Toer, biasa disebut Mas Pram, lewat karya tiada akhirnya “Bumi Manusia,” lalu mengenal Agus Noor lewat cerpen dan prosanya yang acapkali terbit di Kompas Minggu, atau ulasan para penulis opini kenamaan di majalah Tempo. Perlahan hal demikian menjadikan saya tertarik untuk membaca dan membaca karya mereka yang sungguh luar biasa. Saya menempatkan diri untuk tidak hanya membaca. Saya lalu mencari tahu dimana kesukaan saya yang lebih mencolok: Opini ilmiah atau fiksi ilmiah. Itulah aksi imaji tingkat dua: Cari tahu bidang apa yang kamu suka.

Biasakan dirimu mendalami dan fokus pada satu bidang tertentu hingga benar-benar lulus dan mendapakat hasil memuaskan. Contohnya seorang anak yang sejak kecil bercita-cita jadi pesepakbola hebat haruslah fokus dan lebih lagi menggali kemampuan di dunia sepakbola. Atau seorang pemudi yang jatuh hati pada dunia panggung dan teater patutlah lebih lagi menelusuri ke kedalaman hingga lulus dan menjadi seniman ternama. Gali, dalami, pahami bidang yang kamu suka dan sensitif terhadap kondisi terkini yang terjadi di sekitarmu. Itulah aksi imaji tingkat tiga.

Saat ini menguak isu terkini mengenai rencana penambahan uang muka untuk pembelian mobil pejabat negara yang terkesan tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional yang tidak begitu stabil, beban masyarakat menanggung dampak naiknya harga BBM, dan masih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (Kompas.com). Atau isu dugaan korupsi dalam proses pemberian kredit di PT Pertamina Sumatera Utara bisa jadi topik tulisan. Namun, sikap sensitif tidaklah cukup haruslah ditemukan sumber referensi untuk menguatkan tulisanmu. Menulis tanpa sumber referensi valid bagaikan perahu tanpa dayung. Perahu adalah isu yang mencuat; laut adalah lingkunganmu; dan dayung menjadi modalmu untuk menulis, membawa para pembaca ke tempat tujuannya: renyah dan enak dilahap hingga titik akhir.

Menulis

Menulis adalah usaha menyempatkan diri menuangkan apa yang kamu pikirkan, yang tiba-tiba saja muncul, kendati sesibuk apapun rutinitasmu. Menulis bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Persoalannya: Apa kamu mau melakukannya. Ini yang saya maksud aksi imaji tingkat empat. Aksi ini tidak menghabiskan biaya besar, juga tidak melulu harus meluangkan banyak waktu berjam-jam di depan komputer untuk sekedar menuntaskan satu paragraf pembuka atau yang biasa kami sebut lead. Menulis itu santai dan, harusnya memang begitu, supaya ide yang hendak dituangkan mengalir sendiri dan tidak kaku.

Membiasakan diri menulis, itu ibarat menggenggam kunci sakti untuk membuka setiap gerbang istana. Kamu akan dengan mudah melepaskan tali gembok dari ikatannya walau gemboknya diselimuti karat. Lalu kamu akan melihat seisi istana secara detail dan kamu bisa berkuasa atasnya. Begitu saktinya aksi yang sudah terbiasa dilakoni, hingga mungkin dalam dua jam bisa menyelesaikan satu ulasan, didukung fakta-fakta pendukungnya.
Disini saya mengajakmu untuk menulis. Cobalah, dan kamu akan tahu potensi dalam dirimu oleh dirimu sendiri. Carilah koran, majalah dan buku-buku. Lahaplah. Lakukan proses itu, dan rasakan dirimu sedang dimanja oleh kata demi kata. Saat kamu sudah menemukan feel-nya saat itu kamu tidak sedikitpun akan meluangkan waktu berharga untuk hal yang sia-sia melakukan yang tiada faedahnya.

Apa kamu masih tidak tertarik menulis. Coba lihat Raditya Dika lewat karya-karyanya yang lucu dan kreatif, disukai banyak orang dan berujung terkenal. Itu karena kebiasaanya membaca dan menulis. Gagasan tiada habisnya. Jenis tulisan apa saja yang kamu sukai kemudian pertajam, akan menjadi karakter tersendiri bagimu untuk dikenal. Penulis memang banyak, tapi pembaca lebih banyak lagi. Silahkan pikirkan. Penulis pasti pembaca, namun pembaca belum tentu penulis meski memang telah menulis. Nah, jangan lagi muncul anggapan ‘penulis kan sudah banyak, jadi untuk apa menulis.’ Tulisan apa saja yang kamu sajikan orang pasti baca, bedanya di kualitas. Itu akan berlahan kamu miliki jika itu kamu hidangkan tiap hari di meja makan.

Penulis

Aksi imaji tingkat lima dan terakhir. Para penulis produktif berkualitas berbesar hatilah tatkala orang lain atau dirimu sendiri menyimpulkan bahwa karya tulismu adalah produk amal bagi keberlangsungan sejarah. Artinya, kamu tidak hanya telah berkarya atas dasar suka dan hobi, tapi juga kamu menjadikan karya itu sebagai sumbangan berharga kepada orang-orang yang terinspirasi olehnya.
Bagiku penulis adalah perekam sejarah. Penulis adalah penyalur ide. Penulis adalah pengagum karya sastra. Atau lebih spesifik, penulis adalah pecinta karya-karya Mas Pram. Ingat karya berjudul “Sebuah Peristiwa di Banten Selatan”, “Di Tepi Kali Bekasi”, dan “Bumi Manusia” berkisah tentang sejarah di masa penjajahan, itu adalah aksi merekam sejarah.

“Di Bawah Bendera Revolusi” karya Bung Karno yang terbit pertama kali tahun 1959 merupakan produk sejarah untuk menyalurkan ide kepada generasi setelahnya. Beliau menyumbangkan ide persatuan, pergerakan, kemerdekaan, ide nasionalis serta humanis. Dasar-dasar berbangsa bisa diketahui dari karya-karyanya. (Google.com)
Penulis adalah pengangum karya sastra terkhusus karya Pramoedya barangkali relatif. Andai kata demikian bacalah karya-karyanya. Lalu mari kita diskusikan di Komunitas Mata-Kata Medan.


Anggota Komunitas Mata-Kata

Komentar