cerber...
Ibuku lahir tahun 1948. Setidaknya begitu tertulis di ktp lama. Ktp itu dicetak kertas dan dilaminatang. Ibu tidak tahu persis tanggal dan bulan lahirnya. Demikian juga aku tidak tahu tanggal, bulan dan tahun lahir ibuku. Pernah suatu ketika aku bertanya tanggal lahir ibu. Ibu benar-benar tidak ingat. Mungkin karena orang tua dari ibuku buta huruf dan sehingga tidak bisa menceritakan persis hari, tanggal, bulan dan tahun kelahiran ibu. Atau mungkin saja saat itu tidak ada kalender di rumah sehingga kakek-nenekku sulit menjelaskannya. Atau mungkin ibu tidak pernah bertanya kepada orang tuanya. Tapi ibuku bukanlah tuna aksara.
Aku terima surat itu dari tangan ibu. Aku gugup karena belum sepenuhnya percaya sebelum
membaca isi surat itu. Sejenak aku teringat desas desus tetanggaku mengenai
banyaknya siswa/i SMA di sekolah lain yang tidak lulus UAN. Aku pikir tidak
mungkin aku tinggal kelas. Tidak mungkin aku harus setahun lagi duduk di bangku
kelas 3 SMA. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh mengecewakan ibu.
Lulus hingga tingkat SMA saja sudah syukur. Aku tidak mau menambah beban ibu
dua tahun duduk di kelas yang sama.
Lagi pula tempat aku menuntut ilmu adalah perguruan swasta.
Jadi tidak mungkin aturan batas minimal kelulusan UAN itu disamakan dengan
sekolah negeri yang bonafit – sekolah yang dilengkapi dengan perpustakaan
lengkap, ruang praktik, tenaga pengajar yang sudah sarjana, kapur tulis yang selalu
tersedia tanpa harus membeli per kotak ke toko grosir Tionghoa di kampungku.
Pernah beberapa kali aku diminta bapak kepala sekolah membeli kapur saat
istirahat kelas. Pemilik toko sudah mengenali wajahku.
“Kapur ya?”
“Iya pak.”
“Brapa kotak?”
“Satu pak.”
“Kayaknya dua hari yang lalu temanmu baru beli kapur sekotak
juga.”
“Iya pak sudah habis. Satu kotak itu dibagi untuk beberapa
kelas.”
Perlahan kubuka ujung amplod yang berisi surat kelulusanku
itu. Amplod itu diberi perekat kertas. Warna putih amplod itu dan bertuliskan
‘envelope’. Mungkin orang tua dulu tidak tahu membacanya dalam bahasa Inggris
sehingga sangat beda jauh dengan pengucapannya. Lalu, tiba-tiba pikiranku
melayang hebat bagai kertas yang ditiup angin puting beliung. Kertas itu lalu
tersangkut di pohon jambu air di dekat kantin dan di depan ruangan bapak kepala
sekolah. Kertas itu bagai surat kelulusanku yang mendarat di ranting dari
cabang pohon yang paling tinggi. Pohon itu kupanjat tepat saat daunnya lagi
lebat-lebatnya dan sedang berbuah. Tertarik aku melihat warna cerah buah pohon
itu. Lalu kucicip. Dan sebentar aku tersadar karena buah jambu air itu ternyata
masam.
Kemudian terdengar olehku suara-suara yang bersumber dari
bawah pohon jambu itu. Terlihat olehku ibu sedang duduk di situ di atas batu
semen bekas runtuhan pagar beton sekolahku. Pagar beton yang sudah tua. Kulihat
ibuku sendiri dan tiada seorang pun yang mengajaknya hanya sekedar ngobrol
sembari menunggu nama-nama kami dipanggil, yang sudah tertulis di bagian luar
amplod surat kelulusan itu. Lebih jeli aku melihat dari atas pohon jambu itu
dan menatap ke bawah. Rupanya rambut ibuku sudah memutih. Hampir kepala ibuku
yang dulu ditutupi oleh setumpuk rambut yang panjang, bersih, hitam, dan
tersisir rapi tapi kini tampak sudah memutih seluruhnya. Tidak hanya itu,
rambut ibuku juga terlihat berantakan. Sepertinya ibuku tidak sisiran dari
rumah. Juga rambut ibuku terkesan keriting dan rambut putihnya satu demi satu
tampak hendak terpisah dari rambut-rambut yang lain.
Dan angin bertiup kencang. Aku menggenggam erat cabang pohon
jambu itu supaya bertahan dari tiupannya. Aku tidak ingin orang-orang yang
sedang duduk di bawah tahu kalau aku sedang berada di pucuk pohon ini. Aku
takut bilamana ibuku memandang ke atas sambil berdiri dan merasakan tiupan
angin yang lebih kencang. Lalu ibu melihatku berdiri di pucuk pohon jambu ini.
Lupakan. Itu tidak boleh terjadi. Aku harus memegang erat cabang pohon ini dan
menutupi seluruh tubuhku dengan daun-daunnya agar tidak terlihat.
Semakin kuperhatikan lagi, ternyata ibuku tidak memakai alas
kaki. Apa ibu tidak punya sandal untuk dipakai. Atau ibu memang lebih suka
kemana-mana jalan kaki cakar ayam. Untuk menerima surat kelulusanku saja ibu
tidak punya sandal, kataku berbisik kepada angin yang baru saja bertiup.
Telapak kaki ibu terlihat lebar. Itu karena ibu ke banyak tempat lebih sering
tanpa alas kaki, baik ke sawah, ke acara ibu-ibu arisan ataupun ke pesta.
Mungkin bagi ibu kaki model cakar ayam lebih favorit sebagai alat untuk
menempuh tiap jalan yang dilaluinya. Kuku jempol kaki ibu rupanya kotor dan berwarna
kekuningan seperti karat. Apa ibu baru saja kembali dari sawah, tak sempat
mandi dan langsung ke sekolah.
Aku masih berada di pucuk pohon jambu yang tumbuh subur di
dekat kantin dan di depan ruangan bapak kepala sekolahku dulu. Aku berdiri
tegak. Tangan kiriku memegang erat cabang pohon jambu itu. Lalu tangan kananku
bertugas menyisihkan beberapa ranting dan daun-daun jambu agar ibu tampak jelas
di mataku. Aku ingin melihat jelas bahasa tubuhnya, gerak-geriknya, kebisuannya.
Aku ingin melihat lebih jelas siapa gerangan orang tua dari teman-temanku yang
menyapa ibu. Beruntung, tak seorang pun melihatku bersembungi di pucuk pohon
ini, bahkan istri bapak kepala sekolah. Dia tidak sekali pun menatap ke atas
seperti yang sering dilakukannya dulu sebelum lonceng sekolah berbunyi, untuk
hanya sekedar memastikan jumlah buah jambu yang belum jatuh.
Lalu kuperhatikan lagi ibuku yang tak menunjukkan wajah malu
saat tidak mengenakan alas kaki. Mungkin saja ibu sudah terbiasa begitu. Atau
mungkin sebenarnya ibu merasa malu, barangkali karena ibu tak punya sandal yang
layak untuk dipakai. Seingatku ibu punya sandal. Di mana gerangan sandal itu.
Sandal berwarna, sebelah kiri dan kanan warnanya beda. Dan lagi ujung jepitnya
disambung dengan tali rafiah. Tidaklah. Ibu memang tak seharusnya memakai
sandal itu. Sandal itu hanya biasa dia pakai ke sawah jika berjalan kaki
melewati jalan berbatu dan beraspal. Dan di hari yang berbahagia ini ibu bahkan
tidak berpenampilan layak.
Dan entah mengapa baru saja aku meyadari bahwa ibu sudah
benar-benar tua renta. Aku perhatikan kulit ibu kering gersang muncul
sisik-sisik putih kecil seperti debu pada bagian tangan dan kaki. Tampaknya ibu
habis digilas matahari ketika sedang sibuk bekerja di sawah dan lupa mengenakan
seragam kerja. Bisa saja ibu memang memakai seragam kerjanya namun lupa
istirahat karena masih banyak yang harus dikerjakan. Lalu aku menyadarkan diri.
Ternyata amplod ini baru saja kubuka. Belum sempat aku menarik secarik kertas
dari dalamnya.
Bersambung…
Komentar
Posting Komentar