Kisah Ini Kuceritakan Kembali Padamu Mutiara Hatiku…



Oleh: Ardin Silalahi
Kisah ini kuceritakan kembali padamu mutiara hatiku saat kau telah resmi menjadi pendamping hidupku. Kau telah resmi menjadi pendamping hidupku tepat sejak tanggal 17 Juli 2015. Hari itu kau terlihat tidak lagi seperti teman SMP-ku dulu. Kebayamu yang menggetarkan dipadu dengan payet berkilau-kilau seperti pasir putih diselimuti terik matahari di pantai nan sepi ; model sasak dan sanggul yang tampak seirama dengan rambutmu yang terlihat kembang; bunga melati yang melingkar di kepala di antara rambut dan sanggul yang juga teruntai jatuh persis di dekat bahumu; make-up yang tidak terlalu menor seperti yang pernah mewarnai wajahmu di kala wisuda dulu; dan tak lupa senyum yang selalu kau bagi di tiap momen hari bahagia itu, kau tampak anggun.

Pertama kali aku mengenalmu saat kita duduk di kelas yang sama, kelas 3 SMP.  Kau pendiam, suka baca buku, tidak suka bermain di luar kelas kala guru tidak masuk. Berbeda denganku. Penampilanmu juga beda. Kau suka pakai kaus kaki lebih tinggi dari yang lain dan rokmu lebih rendah dari yang lain. Tasmu selalu dipenuhi dengan buku dan terlihat gembung. Tampaknya tasmu lebih besar dari yang lain. Aku sering melihatmu bawa air minum ke sekolah. Rupanya kau juga tidak suka jajan di kantin kala istirahat kelas. Kau hemat istriku. Katamu bukan karena tidak punya uang, tapi kau suka menabung.

Kau memang selalu tampil beda istriku. Duduk paling depan, suka baca, selalu ngerjakan PR, dan jarang sekali ikut dalam barisan orang-orang hukuman karena PR-nya tidak selesai. Ah, memang kau jadi murid teladan dan selalu jadi referensi para guru. “Sudah kubilang kerjakan PR tapi sama sekali tidak kau kerjakan,” mungkin begitu kata guru kita dulu “tirulah si Esra Siagian itu.” Nah, kau jadi bahan referensi kan! Seperti buku saja. Sepertinya kau perpustakaan berjalan, kalau boleh bilang begitu.

Lalu banyak dari antara kami ingin duduk sebangku denganmu. Aku juga ingin. Siapa tahu kecerdasanmu menulariku. Tapi apa dikata gayung tak bersambut. Karena guru bahasa Indonesia kita itu Pak Budi, dan kau murid kesayangannya, kau pun disandingkan dengan pria yang kemudian jadi sohibmu itu. Kau meng-iya-kan. Kau telah memilih Si Alababa menjadi temanmu sebangku.

Masih ingat dengan Pak Budi? Kau pasti masih ingat. Dia kan guru favoritmu, ya? Dia guru bahasa Indonesia kita dulu. Dalam mata pelajarannya (mapel) kau anak emas. Paling sering diunjuk untuk menjawab soal yang diberikan. Mungkin si bapak itu tahu kau sudah tahu jawabannya, dan jawabanmu akan lebih betul bila dibanding dengan teman sebangkumu itu. Aku iri padanya. Kok bisa ya dia duduk persis di sampingmu dan persis di depan meja guru?

Pak Budi pilih kasih. Bapak itu sudah tahu kalau nilai bahasaku juga rendah, kenapa tidak aku saja duduk di dekatmu. Dia curang. Dia tidak tahu rupanya bahwa aku adalah jodohmu dan kita telah dijodohkan sejak
lahir.

Kuperhatikan dari deretan meja paling belakang kau lebih sering senyum, lalu kadang kala wajahmu masam sejak Si Alababa duduk dekat denganmu. Apa mungkin dia telah menggodamu lalu kau senyum sumringah? Dari penampilannya saja harusnya kau tahu si Alababa itu memang raja gombal. Kau tidak tahu itu, istriku?

Bila saja dulu kau perhatikan matanya ketika menatapmu dari jarak 15 cm, seperti telah menebar godaan. Tidak mungkin kau tergoda. Tapi mungkin saja kau tergoda tapi tak kau perlihatkan ketergodaan itu. Bila benar kau telah tergoda sungguh teganya dirimu pendamping hidupku! Hehehe
Wajahmu masam  mana kala pelajaran mate-matika tiba. Lagi-lagi kau diunjuk untuk mengajari Si Alababa itu. Tampaknya dia sulit mengerti sehingga tampilan wajahmu begitu.

Mapel mate-matika adalah bidang studi kesukaanmu. Kau suka belajar menghitung, suka ilmu logika, namun tidak suka menghapal. Kau juga suka belajar fisika, biologi dan kimia, sehingga katamu kau pernah memilih jurusan Teknik Industri di SPMB 2005. Bila aku tak lupa. Lalu bagaimana dengan pelajaran bahasa Inggris, istriku?

Kau juga suka pelajaran itu. Itu seingatku. Buktinya kau hampir tidak pernah berada dalam antrian pasukan siap dipukul, dan pasukan siap berdiri di kursi dan hingga di meja bila PR tidak selesai dan bila tidak bisa menjawab tanya jawab dari Pak Sigiro itu. Bapak itu memang cukup sadis. Sekali kasi PR langsung dari halaman 1-10. Bisa sampai 100 soal yang harus kita selesaikan. Bila tidak selesai 45 maka akan sebanyak itulah aku dipukul.

Kau tahu, bila jari kananku terasa perih dan sakit, kuganti dengan jari kiri. Kau pasti tidak lupa bagian ujung jari kami yang dipukul, sakitnya minta ampun. Bila masih ada sisa pukulan dan kedua ujung jari kami tak sanggup lagi menahan penggaris tebal atau bambu mendarat di ujung jari kami – diambil dari pagar bunga di depan kelas kita – maka betis jadi santapan lezat. Ah, memang sungguh terlalu bapak itu menghukum kami. Pernah kau rasakan pukulan itu, istriku?

***

Setelah lulus SMP kita hilang komunikasi. Sok kali aku, ya kan? Waktu SMP kita tidak kompak ko. Terkadang aku menyapamu hanya bila aku tidak mengerjakan PR, lalu mencontek buku jawabanmu. Bila aku tidak salah ingat. Kan sudah lama sekali masa SMP itu. Sekitar 15 tahun yang lalu. Ternyata aku sudah tua ya dek. Sudah hampir mau kepala tiga.

Awalnya aku tidak tahu kau melanjut sekolah dimana. Selanjutnya kuketahui kau menuntut ilmu di salah satu  SMA di Pematang Raya. Sekolah ternama se-kabupaten Simalungun kala itu. Sekarang juga tampaknya masih. Benar-benar orang yang gigih belajar yang bersekolah disana. Tak pandang miskin atau kaya. Benar itu sekolah piilihan. Bagi siswa tak mampu dengan etos belajar tinggi berkesempatan menikmati pelajaran di SMA tersebut karena uang sekolahnya gratis. Mungkin uang makan dan uang asramanya juga gratis dek?

Terbukti kau memang sungguh-sungguh menuntut ilmu di sekolah itu. Karena setelah lulus SMA kau diterima di Universitas Negeri Medan (Unimed dulu IKIP) alias kampus namboru (itu dulu ya..sekarang kampus favorit loh se-Sumatera Utara bagi para calon pendidik dan pendidik hebat). Sedangkan aku hanya bisa lulus dari SMK swasta dan alumni kampus swasta. Kau tahu aku pernah minta sekolah di SMA Negeri 1 Perdagangan, namun terbentur biaya. Andaikata itu terjadi mungkin saja aku bisa diterima kuliah di UI, kampus idamanku itu. Tapi jalan hidup berkata lain.

Di Unimed kau duduk di Fakultas Ekonomi program studi Akuntansi. Hanya empat tahun kau lahap semua SKS-mu, dan menyandang gelar sarjana di tahun 2009. Semangat belajarmu memang tak pernah kendur. Di kala SMP pun sering kali kau juara umum dari hampir 350 murid tiap angkatan kita dari kelas 1-3 SMP. Tak salah memang kini ketebalan kacamatamu dan min-nya cukup besar. Sejak kelas 1 SMA kau telah mengenakan kacamata. Kau memang suka membaca. Bisa kubilang bagimu buku adalah jendela dunia dan sumber pengetahuan. Ah, aku tidak sepertimu.

Oh, mutiara hatiku, aku menuliskan kisah ini untukmu. Kisah untuk kau kenang dariku suamimu.

Bersambung…

Komentar