Hujan Pertama di Bulan Oktober

Ayah, lihat yah, hujan sudah turun. Apa aku boleh main hujan. Aku ingin main yah. Lagipula aku sudah besar. Ayah takut aku diserang flu dan batuk-batuk. Biasanya kalau hujan turun yah, buah pohon anggur kita banyak berjatuhan. Ayah masih tidak mengijinkanku. Akan kuambilkan buah anggurnya untuk ayah.

Jangan nak, nanti kau sakit. Sepanjang hari kota kita diselimuti kemarau. Kalau kau main hujan bagaimana aku harus bilang ke nenekmu. Ingat nenekmu tidak mau kau sakit. Nenekmu tidak ingin kau flu dan batuk-batuk yang sangat ayah benci itu. Apa kau ingin nenek menungguimu sepanjang malam tak bisa tidur. Apa kau tega melihat mata nenekmu yang tiap hari semakin awas memandangiku karena aku tidak bisa merawatmu seperti ibumu. Nak, tentu kau tak ingin itu. 

Besok, saat embun masih membasahi akan ayah ambil buah anggur kita itu. Jangan sekarang nak, sudah larut malam. Apa kau tidak takut kalau ular tiba-tiba datang dan menggigitmu. Kau memang tidak menghiraukannya. Jangan nak, jangan malam ini, ular itu akan menggodamu. Benar, kau hanya tahu buah anggur kita manis, kemudian kau akan mengisi penuh mulutmu dengan buah-buah merah itu. Dan kau hanya ingin menghisapnya, lalu membuang ampasnya. Sudah sering begitu. 

Tapi ayah aku suka buah anggur. Aku ingin makan buah anggur kita itu. Ini niatku sendiri. Aku tidak pernah digoda ular itu. Sekalipun digoda aku akan ingat kisah di kitab itu, yang pernah ayah dongengkan sebelum aku tidur dulu. Aku tidak akan tergoda untuk memakannya yah. Aku senang makan buah aggur kita, kecuali buah yang dipesankan kakek. Apa ayah takut kalau aku bisa membaca pikiran ayah setelah memakan buah yang di tengah-tengah taman kita. Tidak yah. Ini abad ke-21. Ayah tahu abad ini sudah modern yah, tidak ada ular bisa bicara dan menggodaku. 

Ayah tetap tidak mengijinkanmu mengambil anggur itu. Ini hujan pertama nak di bulan Oktober. Kau akan demam nak jika tubuhmu disiram hujan itu. Dengarkan ayah saja, ayah akan bercerita sebuah kisah. Jangan tutup telingamu nak. Kau tahu ini tidak seperti kisah yang sudah berkali-kali ayah ceritakan. 

***
“Dulu waktu aku belum lahir kakekmu adalah pria luar biasa. Kakekmu adalah pemuda yang gagah berani dan memiliki ilmu yang sangat ditakuti oleh seluruh penduduk kota.”
“Nama kakek siapa yah?”
“Diciptakannya siang dan malam, bulan dan bintang-bintang dan matahari.”
“Apa kakek masih hidup? Kenapa aku tidak pernah melihat kakek yah?”
“Segala jenis tumbuh-tumbuhan di bumi, ikan-ikan di laut, binatang-binatang dan burung-burung di udara kakekmu sendiri juga yang menciptakan.”
“Apa ayah punya foto kakek?”
“Apa aku harus menjawabnya? Seberapa penting foto itu bagimu? Apa tidak lebih penting kau mengetahui karya-karyanya saja?”

Ayah sejenak menyudahi kisahnya. Tampaknya ayah tidak ingin lebih jauh cerita tentang kakekku, tentang siapa yang melahirkan kakekku dulu, tentang mengapa kakek menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, tentang dimana kakek dan siapa namanya. Aku harus membaca sendiri kitab-kitab itu.

“Mengapa kakek menciptakan itu semua? Apa kakek juga yang menciptakan hujan ini?”
“Tidak nak, banyak rahasia yang tidak harus kau ketahui tentang kakek dariku. Kau harus membaca sendiri kitab-kitab itu. Kau tahu, apa yang ingin kau ketahui akan kau dapat langsung dari kitab-kitab itu."
“Baik yah, aku tidak mau bertanya lagi soal kakek. Aku hanya ingin tetap duduk di samping ayah. Aku ingin mengawasi tiap tetes hujan yang jatuh memercik dari daun-daun pohon anggur kita hingga ke teras rumah.”

“Jangan nak, kau harus terus bertanya. Kau tidak boleh berhenti bertanya. Kau harus mengetahui semua hal yang belum kau tahu. Ingat, rasa keingintahuanmu yang akan membuatmu berkembang dan maju dalam segala hal. Dengan bertanya kau mengetahui segala hal yang belum diketahui banyak orang.”

Ayah terus saja bercerita dan aku akan selalu bertanya. Begitu seterusnya. Ayah ingin melanjutkan ceritanya. Berlahan ayah mulai bercerita. Dia bercerita sejadinya hingga lupa rehat. Dan aku tetap saja dengan pertanyaan-pertanyaanku. 

“Kau tahu nak, dulu kakekmulah yang menciptakanku. Awalnya kakek tidak ingin menciptakan manusia seperti aku. Tapi kakek bingung mengenai siapa yang akan memberi nama kepada semua ciptaan sebelum aku diciptakan. Kakekmu tidak mau membiarkan seisi bumi hampa manusia tanpa ada yang mengusahakannya. Kakekmu ingin semua binatang berjalan dan merayap, di bumi dan di dalam air punya nama. Kakekmu juga ingin cakrawala dan burung-burung di udara memiliki nama, dan ayah sendiri yang telah menamai itu semua.”

“Berarti ayah juga punya nama? Apa aku juga punya nama yah?”
“Saat aku masih kecil, kakekmu belum punya nama untukku. Belakangan setelah aku besar dan siap menikah, kakek memberi nama ayah Adam dan ibumu punya nama lain yang harus kau cari tahu sendiri.
“Aku juga punya ibu? Ceritakan padaku yah lebih banyak soal ibu.”
“Tidak nak, kau belum pantas tahu soal ibumu.” 

“Apa ayah masih memandangku sebagai seorang anak kecil? Aku sudah besar yah. Aku sudah berkumis seperti mantan gubernur ibukota kita. Jenggotku juga sudah tumbuh lebat.”
Kata ayah aku masih muda. Aku masih polos. Aku belum pantas tahu soal ibu, dimana ibu dan mengapa aku tidak pernah melihatnya. Mengapa ibu tidak pernah merawatku ketika aku sakit aku tidak juga tahu. Aku ingin sekali memeluk ibu. Ibu tidak pernah membelaiku saat aku terbangun di malam hari dan saat mimpi buruk menghantuiku. Ibu juga tidak pernah mengatakan I love you ketika aku berangkat ke sekolah, dan tidak pernah mengatakan bye-bye saat ibu mulai hilang dari pandanganku. 

“Kau masih muda nak, kau belum pantas tahu soal ibumu. Maafkan ayah karena aku telah mengabaikan ibumu dalam cerita-ceritaku sebelumnya. Tapi ini bukan salahku. Aku juga tak mau menceritakannya sekarang karena sejak kau duduk di semester tiga, aku tahu kau mulai berpikir realis. Kau tidak percaya Tuhan. Kala teman-temanmu berkunjung ke rumah kita, ayah sempat menguping obrolan kalian. Apa benar sore itu kau yang mengatakan tidak percaya Tuhan jika belum melihat-Nya?”
“Benar yah, aku yang mengatakannya. Aku percaya jika aku sudah melihat. Aku juga percaya bahwa materi yang menentukan ide. Aku selalu meragukan sesuatu hal sebelum melihatnya. Apa aku salah? Apa guruku telah salah mengajarkannya?”

“Baik. Aku ayahmu yang melahirkan ibumu. Kau pasti tidak akan percaya. Saat aku tertidur pulas kakek menghampiri tanpa sepengetahuanku. Malam itu kakek tidak membangunkanku untuk minta ijin, dan kakekmu tak harus meminta memang. Kakekmu mengambil tulang rusukku, kemudian kakekmu menghembuskan nafas kehidupan kepada ibumu dengan tulang itu. Hanya karena tulang itu ibumu lahir. Ayah tahu itu tidak logis bagimu. Tapi kalau bukan kakekmu siapa lagi? Hanya aku yang mendiami taman itu dulu, tidak ada siapa-siapa selain pohon anggur. Itu artinya kakekmu yang menciptakan ibu dari tulang rusukku.”

“Ayah bohong, aku tidak percaya dengan ucapan ayah. Kakek yang menciptakan hujan di bulan Oktober ini aku juga tidak percaya. Mana mungkin ibu lahir karena ayah sudah lebih dulu diciptakan. Itu bertentangan sekali dengan ilmu biologi yang kupelajari. Ilmu pengetahuan yang setiap teman-temanku yakini cukup membuktikan kalau cerita ayah bohong besar.”

***
Ayah lalu bercerita tentang rumahnya. Dulunya rumah ayah adalah taman buah anggur seperti yang saat ini tumbuh meranggas di halaman depan rumahku. Tapi ayah hampir lupa dan menebak-nebak apa ayah pernah cerita soal rumah itu, soal taman itu, soal taman yang disulap menjadi rumah itu. Kata ayah rumah taman itu diwariskan oleh kakekku. Rumah taman itu disebut Eden. 

Ayah dan ibuku hidup bahagia di taman itu. Semua tersedia. Apa yang ayah dan ibu butuhkan sudah ada, tinggal ambil saja. Ayah tidak perlu susah payah untuk mencari makan sehari-hari. Ayah dan ibu hidup makmur. Ayah tidak perlu ikut nimbrung pada sindikat-sindikat pencuri uang rakyat yang saat ini telah menjadi bahaya laten di seluruh negeri. Ayah juga tidak mau menghalalkan segala cara untuk menggolkan proyek-proyek gelap demi kepentingan pribadi dan memperkaya diri sendiri dan kelompok ayah. Ayah juga menolak menerima suap untuk memuluskan langkah calon PNS mendapat kursi idamannya. Ayah dan ibu bebas makan apa saja yang mereka mau. Mereka kaya. Tapi hanya karena buah pohon yang di tengah-tengah taman itu semuanya pun usai. Itulah awal penyebab semua bencana ini. 

“Mengapa pohon itu jadi penyebab segala kemakmuran itu berakhir?”
“Kakekmu pernah berpesan agar aku dan ibumu tidak memakan buah yang di tengah-tengah taman itu. Tapi karena ular yang cerdik itu telah menghasut dan melancarkan tipu daya kepada ibumu, ayah pun ikut kena getahnya.”
“Kenapa dilarang memakan buah itu?”
“Hussy, pertanyaanmu nak, baca kitab itu. Lihat kitab itu sudah dipenuhi debu, artinya sudah lama kau tidak membacanya.”
“Lalu nama ibu siapa yah?”
“Bukankah tadi kau sudah menanyakan itu?”
“Tapi ayah lupa, ayah belum mengatakan siapa nama ibu. Dan mengapa ibu tidak lagi bersama kita? Apa ayah sudah mencampakkan ibu? Barangkali ayah telah mencampakkan ibu demi wanita lain yang lebih cantik dan aduhai? Apa ayah selingkuh saat ibu mengandungku dan kemudian menceraikan ibu saat aku dilahirkan?”

Jangan teruskan nak, sahut ayah. Aku belum tahu apa-apa. Aku boleh melayangkan jutaan pertanyaan, tapi mengenai ibu telah jadi rahasia besar bagiku. Ayah takut akan jadi batu sandungan bagiku sekiranya aku tahu siapa ibu dan mengapa pergi meninggalkan kami.
Ayah mengatakan tidak pernah mencampakkan ibu. Ayahku juga tidak birahi kepada wanita lain. Ayah sangat mencitai ibuku. Hanya karena itu. Hanya karena kejadian itu aku jadi menanggung derita ini. Aku akan selamanya mencari tahu dan penasaran tentang ibu. Itu semua terjadi begitu saja. Itu semua nak. “Jangan salahkan ayah nak,” seruan itu berngiang di telingaku. 

Baiklah aku tidak lagi bertanya soal ibu. Aku cari sendiri cerita tentang ibu. Ayah sudah tahu kalau aku tidak pernah baca kitab-kitab itu. Tidak mungkin aku tidak dapat tanda-tanda mengenai ibu. Akan aku baca kitab-kitab itu dan buku-buku tentang kisah ibu.”
“Silahkan nak, rumah kita ini dipenuhi kitab-kitab, kisah-kisah patriotik, juga dongeng-dongeng sejarah. Ayah senang jika kau cari tahu sendiri mengenai ibumu. Dengan begitu kau tidak lagi menduga-duga dimana dan siapa namanya. Atau mungkin ibumu masih hidup, sapa tahu. Ibumu pasti rindu melihatmu setelah ribuan tahun lalu dia melahirkanmu. Atau, apa mungkin ibumu telah berubah wujud menjadi hujan di bulan Oktober ini”?

***
Ayah tidak juga mau cerita tentang ibu. Aku kehabisan pertanyaan tentang ibu, nama dan dimana ibu sekarang. Kelak akan kualihkan pertanyaan-pertanyaanku seperti, apakah ayah tidak kesakitan saat ibu terlahir dari tulang rusuknya. Atau mengapa lambang negeri ini dinamai burung garuda. Atau mengapa ayah tidak memberitahu aku nama kakek yang sebenarnya. Atau benar ini telah menjadi rahasia besar bagiku. Tidak mungkin. Ayah pasti punya alasan tidak mengatakan nama kakekku yang sebenarnya dan kenapa ibu tega meninggalkanku sebelum aku bisa memanggilnya ibu. 

Ayah apakah aku sudah boleh ambil buah anggur yang berjatuhan di halaman rumah kita. Apa ayah masih takut aku digigit ular. Bicara ayah, bicaralah. Ayah tidak lagi mau bicara. Atau aku menampung air hujan itu saja yah. Ayah katakan sesuatu. Apa ayah takut aku diserang flu dan batuk-batuk. Barangkali ayah tidak ingin aku masuk angin dan demam, iya kan yah.
Jakarta, 27 Oktober 2012
Terinspirasi dari kitab Injil Kejadian.


Komentar